Kiai Muhsinin: Jaga Hati, Hindari Provokasi, dan Jangan Rusak Persaudaraan karena Beda Pilihan

Avatar photo
Kiai Muhsinin dari Pemalang menyampaikan tausiyah pada Rutinan Muslimat dan Fatayat NU Ranting Argatawang di halaman Masjid At Taqwa Ustmaniyah, Senin Kliwon (5/10/2026), dalam rangka memperkuat silaturahmi dan ukhuwah Nahdliyin.

Jatinegara, Warta NU Tegal

Rutinan Muslimat dan Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Ranting Argatawang berlangsung di halaman Masjid At Taqwa Ustmaniyah, Senin Kliwon (5/10/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi, meningkatkan ketakwaan, sekaligus memperkuat ukhuwah warga Nahdliyin melalui majelis keagamaan yang rutin dilaksanakan.

Dalam tausiyahnya, Kiai Muhsinin dari Pemalang mengajak jamaah untuk senantiasa memperhatikan kondisi hati karena hati menjadi salah satu penentu baik buruknya perilaku manusia. Ia juga mengingatkan jamaah agar perbedaan pilihan, khususnya dalam persoalan demokrasi dan kehidupan bermasyarakat, tidak menjadi sebab rusaknya persatuan dan kesatuan.

“Jero niku jasa dadi nyong ana siji wudoh. Wudoh niku berarti dadi kembang. Lamun dadi mau bener, liyane melu bener. Lamun dadi mau ora bener, liyane melu ora bener. Hati sangat menentukan perilaku kita,” tutur Kiai Muhsinin.

Ia menjelaskan bahwa manusia masih terus berada dalam proses belajar. Karena itu, setiap orang perlu membuka ruang untuk memperbaiki diri dan menata hati agar berbagai tindakan yang dilakukan tidak hanya terlihat baik secara lahir, tetapi juga memiliki landasan batin yang baik.

“Kula masih wong sinau. Hati itu seperti sebuah pintu. Karena itu, hati harus terus ditata. Jangan merasa sudah paling benar, sebab kita semua masih dalam proses belajar,” jelasnya.

Menurut Kiai Muhsinin, hati manusia memiliki peran penting dalam mengendalikan ucapan dan tindakan. Seseorang dapat mengucapkan berbagai hal dengan lisannya, tetapi apa yang tampak secara lahir belum tentu menggambarkan kondisi batin yang sebenarnya.

“Makhluk sing ora pernah bolong ya hati. Mulut bisa ngomong A, bisa ngomong B, bisa ngomong mangan, bisa ngomong apa saja. Tetapi yang sebenarnya ada di dalam hati belum tentu sama dengan apa yang keluar dari mulut,” ungkapnya.

Baca Lainnya  Lailatul Ijtima PRNU Sitail, Kiai Fatoni Ajak Warga Perbanyak Shalawat dan Meneladani Rasulullah

Ia kemudian mengingatkan jamaah agar berhati-hati dalam menyampaikan perkataan, terutama ketika berada dalam situasi yang mudah memunculkan emosi. Ucapan yang mengandung provokasi, menurutnya, dapat memperkeruh keadaan dan memunculkan persoalan baru di tengah masyarakat.

“Kadang kita emosi, kemudian mengatakan sesuatu yang akhirnya menjadi provokasi. Masih ngomong provokasi, nggawe sikap kemarahan, nggawe kamandhongan. Karena itu, omongan harus benar-benar dijaga,” pesannya.

Kiai Muhsinin juga menyinggung kehidupan demokrasi yang memberikan ruang kepada masyarakat untuk menentukan pilihan. Menurutnya, kebebasan memilih merupakan bagian dari kehidupan demokratis yang harus disikapi secara dewasa dan penuh tanggung jawab.

“Masalah pilihan demokrasi itu bebas. Masing-masing memiliki pilihan. Tetapi jangan sampai karena pilihan yang berbeda kemudian kita saling bermusuhan. Demokrasi harus dijalani dengan tetap menjaga persaudaraan,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa perbedaan pilihan politik merupakan sesuatu yang wajar dalam kehidupan masyarakat. Yang tidak boleh hilang adalah sikap saling menghormati serta kesadaran bahwa setelah proses pemilihan selesai, masyarakat tetap harus hidup bersama.

“Omongan demokrasi jangan sampai berubah menjadi demonstrasi yang memecah persaudaraan. Beda pilihan boleh, tetapi persatuan dan kesatuan jangan sampai hilang,” tegasnya.

Dalam konteks kehidupan desa, ia juga mengajak jamaah untuk tidak menjadikan proses pemilihan kepala desa sebagai sumber pertikaian. Siapa pun yang nantinya memperoleh amanah sebagai kepala desa harus diterima sebagai pemimpin bersama.

“Siapa pun pilihane, sing dadi lurah, nggih lurah. Siapa pun yang terpilih harus kita hormati. Jangan karena pilihan kita berbeda kemudian hubungan dengan tetangga, saudara, atau jamaah menjadi rusak,” ujarnya.

Kiai Muhsinin menekankan pentingnya menjaga hubungan sosial setelah berlangsungnya proses pemilihan. Menurutnya, masyarakat akan tetap bertetangga, berkumpul, bekerja sama, dan saling membutuhkan meskipun sebelumnya memiliki pilihan yang berbeda.

Baca Lainnya  Ketua PCNU Kabupaten Tegal H. Khozi'in: Ijazah Kubro Manakib Bukan Sekadar Seremoni, tetapi Ikhtiar Menjaga Sanad Ulama

“Kula pesen, ati-ati. Masalah pilihan wis rampung, sing penting persatuan dan kesatuan harus tetap dijaga. Jangan sampai pilihan sesaat membuat hubungan persaudaraan menjadi rusak,” tutur Kiai Muhsinin.

Ia juga mengajak jamaah untuk menyerahkan segala hasil ikhtiar kepada Allah SWT setelah manusia berusaha secara maksimal. Apa pun hasil yang diperoleh, menurutnya, harus diterima dengan lapang dada serta disikapi dengan penuh rasa syukur.

“Sing penting kita dewe rembugan apik, berdoa, lan nyuwun marang Allah. Siapa pun yang terpilih, mudah-mudahan Allah memberikan kebaikan dan menjadikan pemimpin yang membawa manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Selain persoalan persatuan, Kiai Muhsinin mengajak jamaah untuk memperbanyak berkumpul dan berinteraksi dengan orang-orang saleh. Menurutnya, lingkungan pergaulan memiliki pengaruh besar terhadap kondisi hati dan perilaku seseorang.

“Kumpul jejeran, jagongan karo wong-wong sholih. Sebab salah siji obat ati iku munaja lan berkumpul dengan orang-orang saleh. Kita akan mendapatkan nasihat dan keteladanan dari mereka,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa majelis keagamaan seperti rutinan Muslimat dan Fatayat NU memiliki nilai penting karena menjadi ruang bertemunya jamaah dengan orang-orang yang mengajak kepada kebaikan. Kebersamaan tersebut diharapkan dapat menjadi sarana untuk terus memperbaiki diri.

“Jagongan bareng karo wong-wong sholih, tertawa bersama, berbagi cerita, tetapi tetap dalam suasana yang membawa kebaikan. Itu menjadi salah satu cara untuk merawat hati,” ungkapnya.

Kiai Muhsinin kemudian mengajak jamaah untuk senantiasa menghormati para kiai dan tokoh agama yang hadir di tengah masyarakat. Menurutnya, keberadaan ulama dan orang saleh merupakan bagian penting dalam menjaga kehidupan keagamaan dan membimbing masyarakat menuju kebaikan.

“Padahal niki kyaine, nggih napa nggih? Kyaine mestine luwih sholih. Kalau kita dekat dengan orang-orang saleh, insyaallah hati kita juga ikut mendapatkan kebaikan,” tuturnya.

Baca Lainnya  Khutbah Jumat: Mensyukuri Kemerdekaan dengan Memperkuat Iman, Persatuan, dan Pengabdian kepada Bangsa

Ia menambahkan bahwa kedekatan dengan orang saleh tidak hanya memberikan ketenangan hati, tetapi juga dapat menjadi pengingat ketika seseorang mulai jauh dari nilai-nilai kebaikan. Karena itu, jamaah dianjurkan untuk menjaga tradisi silaturahmi dan menghadiri majelis ilmu secara istiqamah.

“Sebab termasuk obate ati niku munaja laa sholih. Hati perlu diobati, perlu dirawat, salah satunya dengan munajat kepada Allah dan berkumpul dengan orang-orang saleh. Mudah-mudahan hati kita selalu diberi keteguhan,” pungkas Kiai Muhsinin.

Editor : Tahmid
Kontributor : M. Umar Soleh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *