Jatinegara, Warta NU Tegal
Suasana kekeluargaan dan doa bersama mewarnai acara undangan keba atau tingkepan Gus Fahmi yang digelar di kediaman keluarga Mokaha, Ahad malam Senin (27/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memanjatkan doa sekaligus mempererat silaturahmi antaranggota keluarga dan masyarakat yang hadir.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Abdul Aziz menyampaikan nasihat keagamaan dengan mengingatkan pentingnya menjadikan ketakwaan kepada Allah SWT sebagai landasan dalam menjalani kehidupan. Nasihat itu merujuk pada kandungan Surat An-Nisa ayat 1 yang menekankan asal-usul manusia, hubungan keluarga, serta kewajiban menjaga tali silaturahmi.
Kiai Abdul Aziz menjelaskan bahwa kehidupan keluarga tidak hanya dibangun atas hubungan darah, tetapi juga membutuhkan ketakwaan, kasih sayang, kepedulian, dan tanggung jawab. Karena itu, momentum tingkepan hendaknya tidak sekadar menjadi tradisi, tetapi juga menjadi sarana memperbanyak doa dan menguatkan ikatan kekeluargaan.
Pesan Takwa dan Menjaga Silaturahmi
Kiai Abdul Aziz mengutip firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa ayat 1:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Artinya:
“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”
Menurut penjelasan Kiai Abdul Aziz, ayat tersebut mengandung pesan yang sangat dalam tentang kehidupan manusia.
“Manungsa kuwi asalé saka siji, yaiku Nabi Adam AS, banjur Allah nyiptakake pasangané lan saka kuwi berkembang dadi akeh. Mula, antarane siji lan sijiné kudu padha ngajeni, ngopeni, lan njaga hubungan kekeluargaan,” jelasnya.
Ia menambahkan, perintah takwa dalam ayat tersebut tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia kepada Allah SWT, tetapi juga tercermin dalam bagaimana seseorang memperlakukan keluarga dan sesamanya.
“Dadi takwa kuwi ora mung soal ibadah pribadi. Ana tanggung jawab sosial lan keluarga. Yen wis nyebut asmane Allah, ojo nganti lali karo sedulur, karo keluarga, karo wong-wong ing sekitar. Hubungan kekeluargaan kudu dijaga, aja nganti amarga masalah cilik banjur padu utawa pedhot silaturahmi,” ungkap Kiai Abdul Aziz.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa setiap manusia berada dalam pengawasan Allah SWT. Karena itu, kehidupan keluarga perlu dibangun dengan penuh kesadaran bahwa setiap sikap, ucapan, dan perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
“Allah iku tansah ngawasi kita. Mula ing kesempatan tingkepan iki, ayo padha ndedonga, muga-muga Gus Fahmi lan keluarga tansah diparingi kesehatan, keselamatan, keberkahan, lan dadi keluarga sing sakinah, mawaddah, warahmah. Sing penting, kabeh kudu dilandasi takwa lan syukur,” tuturnya.
Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa tradisi berkumpul dan berdoa dalam momentum keluarga dapat menjadi ruang untuk memperkuat ukhuwah, selama diisi dengan doa, nasihat, silaturahmi, dan nilai-nilai kebaikan.
Acara tingkepan Gus Fahmi di kediaman Mokaha pun berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Kehadiran keluarga dan masyarakat menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk mendoakan kebaikan serta keberkahan bagi Gus Fahmi dan keluarga.
Editor: Tahmid












