Jatinegara, Warta NU Tegal
Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Jatinegara menggelar Musyawarah Kerja (Musker) masa khidmah 2026–2031 di Gedung MWCNU Jatinegara, Jumat (1/5/2026), yang dihadiri oleh jajaran pengurus harian serta lembaga-lembaga di lingkungan MWCNU.
Kegiatan ini menjadi momentum strategis dalam merumuskan arah program kerja organisasi, sekaligus memperkuat sinergi antar pengurus dalam menjalankan khidmah Nahdlatul Ulama di tingkat kecamatan.
Dalam pembukaan Musker, Ketua Tanfidziyah MWCNU Jatinegara, H. Muhammad Ramdhan, menyampaikan sambutan dengan semangat pengabdian, inovasi program, serta penguatan kemandirian organisasi melalui berbagai terobosan nyata.
“Saya mengawal Mas Aziz dan Mas Haris selaku bendahara UPZIS menerima uang Rp300 juta dari TGR, kemudian langsung dibawa ke LAZISNU dan diserahkan tanpa bersisa satu rupiah pun,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dana tersebut merupakan bagian dari program pemerintah daerah.
“Hal itu sesuai dengan program Bupati bahwa setiap MWC harus memiliki mobil ambulans,” katanya.
Menurutnya, tahun 2026 menjadi awal distribusi bantuan ambulans bagi sejumlah MWC.
“Tahun ini ada enam MWC dan satu LAZISNU yang mendapatkan ambulans, jadi total ada tujuh unit,” imbuhnya.
Ia menegaskan bahwa dana tersebut sepenuhnya dialokasikan untuk pengadaan ambulans.
“Uang Rp300 juta itu memang diperuntukkan bagi pengadaan ambulans melalui UPZIS,” jelasnya.
Ia juga menginformasikan progres pengadaan ambulans tersebut.
“Ambulans saat ini sudah berada di dealer dan sudah kami bagikan informasinya di grup MWC,” tuturnya.
Menurutnya, dalam waktu dekat ambulans akan segera diambil.
“Insya Allah besok Sabtu akan diambil oleh LAZISNU untuk diproses branding,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pihaknya sedang berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait serah terima.
“Sedang kami komunikasikan dengan Bupati untuk agenda serah terima dari Pemda ke UPZIS,” ujarnya.
Ia menyampaikan rasa syukur atas terealisasinya program tersebut.
“Alhamdulillah kita mendapatkan ambulans sesuai instruksi Bupati,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan harapan keberlanjutan program ini.
“Harapannya ke depan semua MWC bisa memiliki ambulans,” katanya.
Ia mencontohkan keberhasilan daerah lain dalam hal tersebut.
“Seperti di PCNU Cilacap, seluruh MWC sudah memiliki ambulans,” jelasnya.
Ia mengungkapkan bahwa keberhasilan tersebut lahir dari kemandirian warga.
“Di sana ambulans diperoleh dari hasil koin masing-masing, bukan bantuan pemerintah,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa pihaknya telah mengundang narasumber untuk berbagi pengalaman.
“Kami mengundang Pak Basit untuk memberikan masukan dan motivasi,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menginformasikan kehadiran tokoh dari PWNU.
“Kemarin kami juga mengundang Prof. Hasim dari PWNU yang hadir tepat waktu sesuai jadwal,” katanya.
Ia menekankan pentingnya disiplin waktu dalam organisasi.
“Harapannya ke depan semua pengurus bisa lebih disiplin dalam menghadiri kegiatan,” tegasnya.
Ia mengapresiasi kedisiplinan narasumber yang hadir.
“Beliau menyampaikan pentingnya menghargai waktu dalam setiap kegiatan,” imbuhnya.
Ia menyampaikan poin penting dari arahan narasumber.
“Salah satu pesan yang saya tangkap adalah pentingnya memperluas makna thariqah,” jelasnya.
Menurutnya, khidmah sosial juga bagian dari thariqah.
“Mendirikan klinik dan memberikan pelayanan sosial itu juga bagian dari thariqah,” ujarnya.
Ia menilai bahwa selama ini praktik tersebut belum maksimal dilakukan.
“Selama ini kita lebih fokus pada amaliah ibadah, tetapi kurang pada aspek sosial,” katanya.
Ia juga menyebut bahwa kegiatan ekonomi dapat menjadi bagian dari ibadah.
“Bisnis yang diniatkan untuk kemaslahatan juga termasuk thariqah,” tuturnya.
Ia mengaku mendapatkan motivasi besar dari arahan tersebut.
“Hal ini menjadi penyemangat bagi saya dalam berkhidmah,” ungkapnya.
Ia menegaskan pentingnya berpikir di luar kebiasaan.
“Jika ingin program besar, kita harus berani berpikir out of the box,” katanya.
Ia menambahkan bahwa hasil besar memerlukan usaha besar.
“Kalau ingin hasil luar biasa, maka harus bekerja secara luar biasa,” tegasnya.
Ia menyampaikan tantangan dalam pengelolaan klinik NU.
“Mendirikan klinik bukan hal mudah, butuh pengorbanan dan kebersamaan,” ujarnya.
Ia mencontohkan kegagalan klinik di daerah lain sebagai pelajaran.
“Di Kota Tegal pernah ada klinik NU yang hanya bertahan satu tahun,” jelasnya.
Menurutnya, faktor utama kegagalan adalah kurangnya kekompakan.
“Kurangnya kebersamaan menjadi penyebab utama klinik tersebut tidak bertahan,” katanya.
Ia membandingkan dengan keberhasilan lembaga lain.
“Berbeda dengan Muhammadiyah yang lebih solid dalam mengelola layanan kesehatan,” imbuhnya.
Ia mengajak seluruh pengurus untuk bersatu.
“Mari kita bersama-sama mendukung berdirinya klinik NU yang kuat,” ajaknya.
Ia juga menyoroti pengembangan layanan poli gigi.
“Alhamdulillah kita sudah mendapatkan dokter gigi, namun ada tantangan biaya kontrak,” ujarnya.
Ia menjelaskan skema kerja sama yang diterapkan.
“Sistemnya bagi hasil, 30 persen untuk dokter dan 70 persen untuk klinik,” jelasnya.
Ia menyebut bahwa biaya kontrak telah dipenuhi.
“Alhamdulillah biaya kontrak Rp25 juta sudah bisa kita bayarkan,” katanya.
Ia menginformasikan progres pengadaan peralatan.
“Peralatan gigi dan bahan medis sudah mulai dipesan,” tuturnya.
Ia berharap layanan segera dapat dioperasikan.
“Insya Allah minggu depan bisa launching pelayanan gigi,” ujarnya.
Ia juga merencanakan peluncuran bersamaan dengan ambulans.
“Sekaligus akan kita syukuri dengan launching ambulans baru,” katanya.
Ia menambahkan adanya tarif khusus bagi pengurus NU.
“Akan ada tarif khusus bagi pengurus NU dan keluarga besar klinik,” jelasnya.
Ia berharap dukungan penuh dari seluruh pengurus.
“Mari kita bersama-sama mendukung dan menyukseskan program ini,” pungkasnya.
Editor : Tahmid












