Sosok  

Abah Amid dan Merah Putih di Tikungan Buah Naga: Menjajakan Bendera, Menjaga Cinta Tanah Air

Avatar photo
Abah Amid, seorang lelaki lanjut usia, tetap setia berjualan di tengah hiruk-pikuk jalanan dan maraknya perdagangan daring, tepat di kawasan “Buah Naga”, Jalan Ir. H. Juanda, Trayeman, Kabupaten Tegal.

Trayeman Slawi, Warta NU Tegal

Di tengah derasnya arus perdagangan daring dan berbagai promosi di ruang digital, semangat menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia masih tumbuh dari tempat-tempat sederhana. Salah satunya tampak di sebuah tikungan yang oleh warga dikenal sebagai kawasan “Buah Naga”, Jalan Ir. H. Juanda, Trayeman, Kabupaten Tegal. Di tempat itu, seorang lelaki lanjut usia bernama Abah Amid setiap tahun setia menjajakan bendera Merah Putih.

Pada Selasa (4/8/2026), wartawan Warta NU Tegal menjumpai Abah Amid sedang duduk di atas kursi plastik di tepi jalan. Di hadapannya terbentang berbagai jenis bendera dengan ukuran beragam, mulai dari bendera kecil hingga bendera bekron berukuran sembilan meter. Bagi Abah Amid, berjualan bendera bukan sekadar aktivitas mencari penghasilan, tetapi juga menjadi ikhtiar sederhana untuk ikut menyemarakkan kemerdekaan dan menumbuhkan kecintaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Semangat tersebut tercermin dari ketekunannya yang setiap tahun kembali membuka lapak sejak memasuki bulan Juli. Abah Amid, yang lahir di Desa Cipancar, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, pada 1955, mengaku hanya sempat mengenyam pendidikan hingga kelas III sekolah dasar. Namun, keterbatasan pendidikan tidak menghalanginya untuk memahami arti penting kemerdekaan dan kehidupan yang layak bagi rakyat. “Merdeka itu bukan cuma 17 Agustus. Merdeka itu kalau rakyatnya bisa makan, bisa usaha, dan tidak dipersulit,” ujar Abah Amid.

Abah Amid telah berjualan bendera selama sekitar 17 tahun, sejak 2009. Setiap memasuki bulan Juli, ia mulai mencari lokasi untuk membuka lapak. Tahun ini, setelah berpindah-pindah tempat, ia akhirnya menetap di kawasan Trayeman. Dari pagi hingga sore, ia bertahan di bawah terik matahari maupun saat hujan demi menunggu pembeli yang datang membeli perlengkapan kemerdekaan.

Baca Lainnya  Dari Desa Tuwel Menuju Pendapa: Jejak Pengabdian Umi Azizah, Kader Muslimat NU yang Mengabdi untuk Umat dan Kabupaten Tegal

Harga yang ditawarkan pun relatif sederhana. Bendera ukuran satu meter dijual Rp15.000, bendera satu meter berbahan kain Rp20.000, bendera ukuran 1,20 meter berbahan kain Rp25.000, dan bendera 1,20 meter berbahan satin Rp22.000. Sementara itu, bendera bekron Garuda sembilan meter dibanderol Rp200.000, bekron kombinasi kain lima meter Rp125.000, bandir lima meter Rp60.000, bekron mini empat meter Rp125.000, serta umbul-umbul Rp17.000.

“Saya tidak mau menipu. Yang mampu membeli yang mahal, silakan. Yang pas-pasan, ambil yang kecil. Yang penting rumahnya ada Merah Putihnya,” tutur Abah Amid.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa bagi dirinya, nilai utama dari berjualan bendera bukan semata-mata keuntungan, melainkan bagaimana semakin banyak masyarakat memasang Merah Putih di rumah, lingkungan, dan tempat usaha masing-masing.

Namun, perjuangan Abah Amid tahun ini terasa lebih berat. Persaingan dengan perdagangan daring membuat pembeli semakin mudah memperoleh bendera melalui telepon genggam dan menerima barang langsung di rumah.

“Saingan dengan online, Nak. Di HP orang bisa pesan, dikirim ke rumah. Saya di sini kepanasan, kehujanan,” katanya sembari menunjuk dagangan yang mulai memudar akibat terik matahari. Di balik ucapannya tersimpan harapan agar keberadaan pedagang kecil tetap mendapatkan perhatian dan ruang untuk bertahan.

Abah Amid juga menyampaikan kegelisahannya sebagai rakyat kecil yang menggantungkan penghasilan dari usaha musiman. “Sedih rasanya kalau pemerintah kurang memperhatikan rakyat kecil seperti saya. Kami juga mau merdeka. Merdeka dari susah, merdeka dari takut tidak laku. Hari kemerdekaan itu harusnya rakyatnya juga ikut merdeka,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Meski demikian, ia tetap berusaha tegak dan melanjutkan pekerjaannya.

Bagi Abah Amid, menjual bendera merupakan bentuk penghormatan kepada para pejuang yang telah mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan nyawa demi kemerdekaan Indonesia. Setiap bendera yang terjual, menurutnya, adalah bagian kecil dari upaya menghidupkan kembali semangat nasionalisme di tengah masyarakat. Semangat tersebut selaras dengan nilai hubbul wathan—kecintaan kepada tanah air—yang menjadi bagian penting dari tradisi kebangsaan Nahdlatul Ulama.

Baca Lainnya  KH Mahfudz Basori, Ulama Penggerak Kemandirian Ekonomi NU yang Mengabdikan Hidup untuk Dakwah dan Pendidikan

“Setiap saya jual satu bendera, saya doakan di rumah itu damai. Itu cara saya ikut menjaga Indonesia,” tutur Abah Amid. Baginya, Merah Putih bukan sekadar kain berwarna merah dan putih, tetapi simbol persatuan, perjuangan, dan harapan agar kehidupan masyarakat semakin baik. Ia berharap setiap orang yang membeli bendera darinya tidak hanya memasangnya sebagai kewajiban menyambut 17 Agustus, tetapi juga menghayati nilai kemerdekaan dalam kehidupan sehari-hari.

Kini, di usia 71 tahun, Abah Amid masih rutin berangkat dari kawasan Kudaile menuju Trayeman setiap pagi. Jika tidak memiliki cukup uang untuk ongkos, ia memilih berjalan kaki. Perjuangan itu terus dijalani demi menghidupi keluarga sekaligus mempertahankan keyakinannya bahwa sekecil apa pun usaha untuk mengibarkan Merah Putih tetap memiliki arti. Bagi warga Tegal dan sekitarnya yang ingin membeli atau memesan bendera, Abah Amid dapat dihubungi melalui nomor 0813-2076-9898.

Di tengah hiruk-pikuk diskon e-commerce, perdagangan digital, dan berbagai kemudahan belanja melalui telepon genggam, lapak sederhana Abah Amid menjadi potret lain tentang arti kemerdekaan. Ia tidak berdiri di atas panggung, tidak berpidato di hadapan banyak orang, dan tidak memiliki modal besar. Namun, melalui tangan tuanya yang setiap tahun kembali menggelar bendera, ia terus merawat rasa cinta kepada Indonesia. Dari tikungan “Buah Naga” Trayeman, Abah Amid seolah mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang keteguhan rakyat kecil untuk terus bertahan, bekerja, dan menjaga Merah Putih tetap berkibar.

Editor : Tahmid
Kontributor: Eko Wahyu Sagino / Masykuri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *