Manfaatkan Limbah, SMPN 2 Bojong Raih Juara 2 KRENOVA lewat Bukhur Bunga Pinus dan Kulit Kopi

Avatar photo
Kreativitas tidak harus menggunakan bahan mahal. Guru dan siswa SMP Negeri 2 Bojong, Kabupaten Tegal, berhasil mengolah bunga pinus dan limbah kulit kopi menjadi bukhur atau dupa aromaterapi. Inovasi tersebut mengantarkan SMPN 2 Bojong meraih Juara 2 KRENOVA 2024 yang diselenggarakan Bappedalitbang Kabupaten Tegal di Slawi, (3–4/07/2024).

Slawi, Warta NU Tegal

Kreativitas tidak selalu lahir dari bahan yang mahal. Di tangan guru dan siswa SMP Negeri 2 Bojong, Kabupaten Tegal, bunga pinus yang berserakan dan kulit kopi yang selama ini dipandang sebagai limbah pertanian justru diolah menjadi produk bukhur atau dupa aromaterapi. Inovasi tersebut berhasil mengantarkan tim SMPN 2 Bojong meraih Juara 2 Lomba Kreativitas dan Inovasi Masyarakat (KRENOVA) yang digelar oleh Bappedalitbang Kabupaten Tegal di Slawi, (3–4/07/2026).

Karya bertajuk “Pemanfaatan Bunga Pinus dan Kulit Kopi Menjadi Bukhur Aromaterapi” tersebut menjadi salah satu bukti bahwa potensi lokal dapat dikembangkan menjadi karya inovatif yang bernilai guna sekaligus bernilai ekonomi. Selain memanfaatkan limbah alam dan pertanian, proses pembuatannya juga menjadi ruang pembelajaran kontekstual bagi siswa untuk mengenal kepedulian lingkungan, kreativitas, kemandirian, serta semangat kewirausahaan sejak dini.

Guru pembimbing tim inovasi SMPN 2 Bojong, Isnaini Arina Khasbana, mengatakan gagasan tersebut berangkat dari kepedulian terhadap berbagai potensi yang tersedia di lingkungan sekitar sekolah dan masyarakat. Menurutnya, pemanfaatan bahan lokal menjadi produk kreatif merupakan bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan siswa.

“Kami melihat banyak potensi dari lingkungan sekitar yang belum dimanfaatkan. Dari situlah kami dan anak-anak mulai menggali ide untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat, bernilai jual, dan tetap berakar pada kearifan lokal,” ujarnya.

Isnaini menjelaskan, pembuatan bukhur dilakukan melalui sejumlah tahapan dan eksperimen yang melibatkan siswa secara langsung. Mulai dari mengumpulkan bunga pinus dan kulit kopi, melakukan proses pengeringan, mengolah bahan, mencetak, hingga mengemas produk dilakukan sebagai pengalaman belajar yang nyata.

“Kami ingin menanamkan semangat wirausaha sejak dini. Anak-anak tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga praktik nyata menciptakan produk yang bisa digunakan dan dijual,” jelasnya.

Baca Lainnya  Semarak Tahun Baru Hijriyah 1448 H, MDT Bustanuttholibin Cerih Berbagi Kebahagiaan dengan Santri

Ia menambahkan, keterlibatan siswa dalam proses inovasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada keberhasilan meraih prestasi dalam perlombaan. Lebih jauh, pengalaman tersebut menjadi sarana untuk membangun keberanian mencoba, kemampuan bekerja sama, sekaligus kepekaan terhadap persoalan lingkungan.

“Awalnya kami tidak menyangka bunga pinus dan kulit kopi bisa dijadikan dupa. Tapi setelah dibimbing dan mencoba beberapa kali, ternyata hasilnya bagus dan aromanya menenangkan,” tuturnya.

Kepala SMP Negeri 2 Bojong, Taufik Hidayat, mengapresiasi capaian tersebut sebagai buah dari kolaborasi antara guru dan siswa dalam membangun budaya inovasi di lingkungan sekolah. Ia menilai prestasi itu menunjukkan bahwa peserta didik mampu mengembangkan ide dari persoalan sederhana yang mereka temukan di lingkungan sekitar.

“Prestasi ini menjadi bukti bahwa siswa kami mampu bersaing, berpikir kreatif, dan menghadirkan solusi bagi masalah nyata di lingkungan mereka,” ungkapnya.

Menurut Taufik, sekolah memiliki peran penting dalam memberikan ruang kepada siswa untuk bereksplorasi dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Karena itu, pendampingan guru perlu terus diperkuat agar pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga membentuk karakter, kreativitas, kemandirian, dan kemampuan memecahkan masalah.

“Dengan bimbingan yang tepat, anak-anak kita bisa tumbuh menjadi pemikir dan pemecah masalah yang hebat,” tambahnya.

Ia berharap inovasi pemanfaatan bunga pinus dan kulit kopi tersebut dapat terus dikembangkan sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi sekolah dan masyarakat. Semangat tersebut, kata dia, sejalan dengan ikhtiar pendidikan untuk menghadirkan kemaslahatan melalui pemanfaatan potensi lokal dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Kami berharap inovasi ini bisa terus dikembangkan dan memberi manfaat luas, baik bagi masyarakat maupun lingkungan,” pungkasnya.

Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *