Jatinegara, Warta NU Tegal
Nuansa religius berpadu dengan kekayaan budaya lokal mewarnai kegiatan rutin Majelis Taklim Selasa Kliwon yang digelar di Kantor Yayasan Mukhari Cahaya Nusantara, RT 23 RW 03 Desa Penyalahan, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Senin (1/6/2026) malam atau bertepatan malam Selasa Kliwon.
Para jamaah dari berbagai kalangan, mulai anak-anak muda hingga orang tua mengikuti rangkaian kegiatan yang diawali dengan pembacaan Shalawat Tijaniyah, tahlil, dan kajian kitab. Menariknya, kegiatan yang telah memasuki putaran ke-12 atau berlangsung rutin setiap selapan (36 hari) itu juga menghadirkan kolaborasi seni budaya Islam melalui penampilan lagu berbahasa ngapak berjudul Piscok Sewu yang diiringi grup rebana Adzikro.
Pimpinan Yayasan Mukhari Cahaya Nusantara, Ustadz Mirkon, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pembinaan keagamaan yang secara konsisten dilaksanakan guna memperkuat tradisi keislaman masyarakat.
“Alhamdulillah, Majelis Taklim Selasa Kliwon ini telah berjalan secara rutin dan kini memasuki pertemuan ke-12. Kami bersyukur antusiasme masyarakat terus meningkat dari waktu ke waktu,” ujarnya.
Menurut Ustadz Mirkon yang juga Kepala SMP Ma’arif 2 Jatinegara itu, majelis taklim bukan hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga ruang mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.
“Kami ingin menghadirkan majelis yang mampu menjadi tempat belajar, berdzikir, sekaligus memperkuat persaudaraan antarwarga tanpa memandang usia maupun latar belakang,” katanya.
Ia menambahkan, pembacaan tahlil, shalawat, dan kajian kitab merupakan bagian dari amaliyah Nahdlatul Ulama yang perlu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.
“Tradisi yang diwariskan para ulama dan muassis NU harus tetap hidup. Melalui kegiatan seperti ini, anak-anak muda dapat mengenal sekaligus mencintai amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah,” jelasnya.
Ustadz Mirkon berharap kegiatan tersebut mampu menjadi benteng moral masyarakat sekaligus media dakwah yang sejuk dan membumi.
“Kami ingin dakwah hadir dengan pendekatan yang ramah, membahagiakan, dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Inilah salah satu bentuk dakwah Islam Nusantara yang diwariskan para ulama,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa keberadaan majelis taklim menjadi sarana membangun masyarakat yang religius sekaligus harmonis dalam kehidupan sosial.
“Semoga kegiatan ini terus istiqamah dan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat, khususnya dalam membentuk generasi yang berakhlakul karimah,” pungkasnya.
Pada kesempatan tersebut, suasana semakin semarak ketika ditampilkan lagu “Piscok Sewu” yang dibawakan dengan iringan grup rebana Adzikro. Perpaduan syair berbahasa ngapak dengan musik rebana menghadirkan warna tersendiri yang memikat perhatian jamaah.
Pencipta lagu Piscok Sewu, Eko Wahyudi, menjelaskan bahwa lagu tersebut lahir dari inspirasi kehidupan masyarakat kecil yang dekat dengan budaya lokal dan bahasa keseharian masyarakat Jawa bagian barat.
“Piscok Sewu merupakan syair sederhana yang terinspirasi dari aktivitas masyarakat dan pelaku usaha kecil. Saya ingin menghadirkan karya yang dekat dengan kehidupan rakyat,” ujarnya.
Alumni Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta itu menilai bahasa daerah memiliki kekuatan besar dalam menyampaikan pesan-pesan budaya dan dakwah.
“Bahasa ngapak adalah identitas budaya yang harus dijaga. Ketika dipadukan dengan seni Islami, ia mampu menjadi media dakwah yang menarik dan mudah diterima masyarakat,” katanya.
Menurutnya, kolaborasi antara rebana, shalawat, dan bahasa lokal merupakan bagian dari upaya merawat peradaban Islam yang tumbuh bersama budaya masyarakat.
“Islam tidak hadir untuk menghilangkan budaya yang baik, tetapi membimbing dan mengarahkannya menjadi sarana kebaikan. Di situlah letak kekayaan Islam Nusantara,” jelasnya.
Eko berharap karya-karya berbasis budaya lokal semakin berkembang dan menjadi ruang kreatif bagi generasi muda Nahdliyin.
“Semoga semakin banyak anak muda yang berani berkarya, mencintai budaya daerahnya, dan menjadikannya sebagai media dakwah yang santun serta membangun peradaban,” tandasnya.
Editor : Tahmid












