Warta  

Lailatul Ijtima’ dan MDS Rijalul Ansor Argatawang Perkuat Amaliyah NU dan Kajian Fiqih Qurban

Avatar photo
Sinergi Nahdlatul Ulama, GP Ansor, Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor, serta Banser kembali terlihat dalam kegiatan rutin Lailatul Ijtima’ dan Majelis Dzikir Rijalul Ansor Ranting Argatawang yang digelar di Sekretariat GP Ansor Ranting Argatawang, Ahad (17/5/2026).

Jatinegara, Warta NU Tegal

Sinergi antara Nahdlatul Ulama, GP Ansor, Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor, serta Banser kembali terlihat dalam kegiatan rutin Lailatul Ijtima’ dan Majelis Dzikir Rijalul Ansor Ranting Argatawang yang digelar di Sekretariat GP Ansor Ranting Argatawang, Ahad (17/5/2026). Kegiatan tersebut menjadi ruang mempererat ukhuwah sekaligus menjaga tradisi amaliyah ahlussunnah wal jamaah an-nahdliyah di tengah masyarakat.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan tahlil, dzikir, dan doa bersama untuk para muassis Nahdlatul Ulama serta ahli kubur jamaah. Setelah itu dilanjutkan kajian Kitab Taqrib yang disampaikan oleh pengurus NU Ranting Argatawang, A. Muzaeni dengan pembahasan fiqih persiapan Idul Adha dan qurban tahun 1447 Hijriyah.

Dalam kajiannya, Ustadz A. Muzaeni menyampaikan bahwa amaliyah NU seperti tahlil, dzikir, dan Lailatul Ijtima’ harus terus dijaga sebagai warisan ulama ahlussunnah wal jamaah.

“Tradisi dzikir, tahlil, dan Lailatul Ijtima’ adalah bagian dari amaliyah NU yang harus terus dirawat demi menjaga keberkahan dan ukhuwah jamaah,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan keagamaan rutin bukan hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga media memperkuat persaudaraan antarwarga nahdliyin.

“Melalui kegiatan seperti ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan ilmu agama, tetapi juga mempererat silaturahim dan kebersamaan,” katanya.

Dalam pembahasan Kitab Taqrib, ia menjelaskan sejumlah ketentuan fiqih mengenai pelaksanaan ibadah qurban menjelang Hari Raya Idul Adha.

“Kajian fiqih qurban penting dipahami masyarakat agar pelaksanaan ibadah sesuai syariat dan tuntunan para ulama,” tuturnya.

Ia mengingatkan bahwa ibadah qurban bukan hanya bentuk penyembelihan hewan, tetapi juga wujud ketaatan dan kepedulian sosial kepada sesama.

“Qurban mengajarkan nilai keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan,” ungkapnya.

Menurut Muzaeni, warga NU perlu terus memperdalam pemahaman fiqih agar mampu menjalankan ibadah dengan benar dan penuh keyakinan.

Baca Lainnya  Ngaji Ramadhan 1447 H MDS Rijalul Ansor Tegal: 18 Titik Konsolidasi Kader Aswaja di Bulan Suci

“Belajar fiqih itu penting supaya masyarakat tidak hanya menjalankan ibadah, tetapi juga memahami dasar hukumnya secara benar,” jelasnya.

Ia juga mengajak jamaah untuk menjaga semangat belajar agama melalui pengajian rutin dan tradisi kajian kitab yang menjadi ciri khas pesantren dan NU.

“Tradisi ngaji kitab harus terus dijaga karena menjadi sumber ilmu dan keberkahan bagi warga nahdliyin,” katanya.

Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama jamaah terkait persoalan fiqih qurban dan praktik ibadah di masyarakat.

“Alhamdulillah jamaah sangat antusias mengikuti kajian dan berdiskusi tentang persoalan ibadah yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.

Editor : Tahmid
Kontributor : M. Umar Soleh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *