Dukuhwaru, Warta NU Tegal
Kajian rutin Rijalul Ansor Slaranglor, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal, tidak hanya menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman keagamaan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sarana membahas persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Salah satunya melalui edukasi pencegahan HIV/AIDS yang dikemas secara santai, komunikatif, dan dikaitkan dengan nilai-nilai keislaman.
Kegiatan yang berlangsung di rumah salah satu anggota Ansor Slaranglor pada Rabu malam (9/9/2026) tersebut diikuti sekitar 35 anggota Rijalul Ansor. Kajian berlangsung pukul 21.00 hingga 22.00 WIB dengan menghadirkan Ustadz Arindra Bagus Santoso, anggota Rijalul Ansor Slaranglor sekaligus Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal. Materi pencegahan HIV/AIDS dikaitkan dengan kajian Kitab Bulughul Maram dan Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 32 tentang pentingnya menjaga diri dan menjauhi perilaku yang dapat menjerumuskan pada kemudaratan.
Ketua Ranting Ansor Slaranglor Kecamatan Dukuhwaru, Ustadz Imam Ibnu Hajar, mengatakan bahwa kegiatan rutin Ansor perlu terus dikembangkan agar memiliki manfaat yang lebih luas bagi kader dan masyarakat. Menurutnya, forum kajian tidak semestinya hanya menjadi tempat untuk meningkatkan pengetahuan keagamaan, tetapi juga dapat menjadi ruang membicarakan berbagai persoalan sosial yang membutuhkan perhatian bersama.
“Ngaji rutin Ansor harus terus kita hidupkan. Selain memperkuat pemahaman agama dan ukhuwah, forum ini juga harus mampu menjadi ruang untuk membahas persoalan sosial yang sedang dihadapi masyarakat, termasuk edukasi tentang pencegahan HIV/AIDS,” ujar Ustadz Imam Ibnu Hajar.
Ia menambahkan, penyampaian materi sosial melalui forum keagamaan menjadi salah satu ikhtiar agar pesan-pesan edukasi dapat diterima secara lebih dekat dan tidak terasa menggurui. Dengan suasana kekeluargaan khas Ansor, kader diharapkan memiliki kepedulian terhadap persoalan kesehatan sekaligus mampu meneruskan informasi yang benar kepada keluarga dan lingkungan sekitar.
“Kami ingin kajian ini tetap terasa sebagai forum ngaji dan silaturahmi, tetapi isinya juga menyentuh kehidupan nyata. Kader Ansor harus memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat, sehingga ilmu yang diperoleh tidak berhenti di majelis, tetapi bisa membawa kemanfaatan di tengah masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Ustadz Arindra Bagus Santoso menjelaskan bahwa HIV/AIDS perlu dipahami secara benar agar masyarakat dapat melakukan langkah pencegahan sekaligus menghindari stigma terhadap orang yang hidup dengan HIV. Ia menekankan pentingnya menjaga diri dan pasangan, menghindari hubungan seksual berisiko, tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian, serta melakukan pemeriksaan HIV apabila seseorang merasa pernah memiliki risiko.
“Pencegahan harus dimulai dari kesadaran menjaga diri. Hindari perilaku yang berisiko, jaga diri dan pasangan, serta jangan menggunakan jarum suntik secara bergantian. Bagi yang merasa pernah memiliki risiko, pemeriksaan HIV justru merupakan langkah yang baik karena semakin cepat diketahui, semakin cepat pula seseorang bisa mendapatkan layanan dan penanganan yang tepat,” terang Ustadz Arindra.
Menurutnya, pesan pencegahan tersebut memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam. Kajian Kitab Bulughul Maram dan Surat Al-Isra ayat 32 menjadi bagian dari upaya mengajak peserta memahami pentingnya menjaga kehormatan diri, membangun pergaulan yang sehat, serta menjauhi hal-hal yang dapat membawa seseorang kepada kemudaratan.
“Dalam Islam, kita diajarkan untuk menjaga diri dan menjauhi jalan yang dapat mengantarkan kepada kemudaratan. Karena itu, edukasi HIV/AIDS bisa kita sampaikan bersamaan dengan nilai-nilai keagamaan. Pesannya bukan sekadar tentang penyakit, tetapi juga bagaimana seorang Muslim menjaga dirinya, keluarganya, dan lingkungan pergaulannya,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan agar edukasi HIV/AIDS tidak diikuti dengan sikap diskriminatif terhadap orang yang hidup dengan HIV. Ia menegaskan bahwa HIV tidak menular melalui berjabat tangan, bersalaman, makan bersama, maupun sekadar hidup berdampingan. Karena itu, masyarakat perlu mengedepankan informasi yang benar, kepedulian, dan dukungan agar orang yang hidup dengan HIV tidak takut mengakses layanan kesehatan.
“Pesannya sederhana: lebih baik tahu, lebih baik mencegah, dan lebih baik memeriksakan diri daripada menunggu sampai terlambat. Pada saat yang sama, jangan memberikan stigma kepada mereka yang hidup dengan HIV. Mari jaga diri, jaga keluarga, dan bersama-sama membangun lingkungan yang sehat dengan tetap mengedepankan kemanusiaan,” pungkasnya.
Editor: Tahmid












