Warta  

Rois Syuriah MWCNU Dukuhwaru KH Mustaqim: Cegah HIV/AIDS dengan Pengetahuan, Bukan Ketakutan

Avatar photo
Upaya pencegahan HIV/AIDS terus dilakukan melalui berbagai ruang edukasi masyarakat, termasuk majelis taklim. Hal ini dilakukan Syuriah MWC NU Kecamatan Dukuhwaru dalam kegiatan rutin Majelis Taklim Jamiyatul Muslimin, Rabu malam (9/9/2026). Kegiatan yang digelar di rumah salah satu anggota tersebut diikuti sekitar 35 peserta.

Dukuhwaru, Warta NU Tegal

Upaya mencegah HIV/AIDS terus digalakkan melalui berbagai ruang edukasi di tengah masyarakat. Tidak hanya melalui forum kesehatan atau kegiatan resmi, pesan tentang menjaga diri dan keluarga juga disampaikan melalui majelis taklim. Hal itu dilakukan Syuriah MWCNU Kecamatan Dukuhwaru dalam kegiatan rutin Majelis Taklim Jamiyatul Muslimin, Rabu malam (9/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung di rumah salah satu anggota tersebut diikuti sekitar 35 peserta mulai pukul 20.00 hingga 21.00 WIB. Kajian menghadirkan Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal, Ustadz Arindra Bagus Santoso, yang menyampaikan edukasi mengenai dampak HIV/AIDS, pencegahan penularan, serta pentingnya membangun pemahaman masyarakat agar tidak muncul stigma terhadap orang dengan HIV.

Rois Syuriah MWCNU Kecamatan Dukuhwaru KH Mustaqim menyampaikan bahwa majelis taklim memiliki peran strategis dalam merespons berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Menurutnya, forum keagamaan tidak hanya menjadi tempat untuk memperdalam ilmu agama, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk menyampaikan edukasi sosial yang berkaitan langsung dengan kehidupan jamaah.

“Majelis taklim bukan hanya tempat untuk meningkatkan ilmu agama, tetapi juga bisa menjadi tempat menyikapi berbagai persoalan sosial yang ada di tengah masyarakat,” tutur KH Mustaqim.

Ia menilai penyampaian edukasi melalui forum keagamaan akan lebih mudah diterima karena berlangsung dalam suasana kekeluargaan dan dilandasi semangat saling mengingatkan dalam kebaikan.

KH Mustaqim menegaskan bahwa pencegahan HIV/AIDS perlu dimulai dari pengetahuan dan kesadaran masyarakat.

“Pencegahan harus dimulai dari pengetahuan dan kesadaran. Kalau masyarakat paham, insyaallah bisa lebih berhati-hati dalam menjaga diri dan keluarga,” ungkapnya.

Ia berharap kegiatan semacam ini terus dikembangkan sebagai bagian dari ikhtiar bersama menjaga kemaslahatan masyarakat.

Baca Lainnya  Bank Sampah Jadi Program Unggulan, PR Fatayat NU Kabunan Dukuhwaru Bangun Kemandirian Organisasi dan Kepedulian Lingkungan

Sementara itu, Ustadz Arindra Bagus Santoso menjelaskan bahwa pencegahan HIV/AIDS membutuhkan pengetahuan yang benar sekaligus sikap yang bijak. Menurutnya, masyarakat perlu memahami faktor-faktor risiko penularan sehingga upaya pencegahan tidak dibangun berdasarkan ketakutan, melainkan kesadaran untuk menjaga kesehatan diri, pasangan, dan keluarga.

“Menjaga diri dari perilaku yang berisiko merupakan bagian dari ikhtiar menjaga kehidupan dan keluarga. Pencegahan juga perlu dilakukan dengan pengetahuan yang benar, bukan dengan rasa takut atau stigma,” jelas Ustadz Bagus.

Dalam kajiannya, materi pencegahan HIV/AIDS dikaitkan dengan perspektif keagamaan melalui rujukan Kitab Bulughul Maram dan Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 32.

Ia juga mengajak masyarakat menerapkan langkah-langkah pencegahan secara nyata, antara lain menjaga diri dan pasangan, menghindari perilaku seksual berisiko, tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian, serta melakukan tes HIV apabila pernah memiliki faktor risiko.

“Jika membutuhkan informasi atau pemeriksaan, masyarakat dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar memperoleh penjelasan dan layanan yang tepat,” katanya.

Selain berbicara tentang pencegahan, Ustadz Bagus menekankan pentingnya menghilangkan stigma terhadap orang dengan HIV. Menurutnya, HIV tidak menular melalui interaksi sosial sehari-hari seperti berjabat tangan, makan bersama, bersalaman, maupun bergaul secara normal.

“Karena itu, masyarakat perlu memiliki pemahaman yang benar agar dapat ikut mencegah penularan sekaligus tidak mengucilkan orang dengan HIV,” pungkasnya.

Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *