Quran  

Ketua Badko LPQ Jatinegara KH M. Yusuf: Mengajar Al-Qur’an Bukan Demi Insentif, tetapi Menjaga Kalamullah

Avatar photo
Ketua Badko LPQ Kecamatan Jatinegara, KH. M. Yusuf Al Khafidz, memberikan arahan pada rapat koordinasi Kepala TPQ se-Kecamatan Jatinegara terkait distribusi buku rekening Bank BTN penerima insentif Pemkab Tegal dan penguatan program Badko LPQ di Ponpes Roudlatul Jannah, Desa Cerih, Jumat (24/7/2026).

Jatinegara, Warta NU Tegal

Badan Koordinasi Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (Badko LPQ) Kecamatan Jatinegara menggelar rapat koordinasi bersama seluruh Kepala TPQ se-Kecamatan Jatinegara di Pondok Pesantren Roudlatul Jannah, Desa Cerih, Jumat (24/7/2026). Pertemuan tersebut membahas teknis distribusi buku rekening Bank BTN bagi penerima insentif Pemerintah Kabupaten Tegal, pembagian formulir dan nomor antrean, sekaligus penguatan berbagai program strategis Badko LPQ.

Kegiatan yang mewajibkan kehadiran seluruh Kepala TPQ tanpa diwakilkan itu berlangsung penuh semangat. Selain penyampaian informasi teknis, forum juga menjadi momentum pembinaan kelembagaan yang disampaikan langsung oleh Ketua Badko LPQ Kecamatan Jatinegara, KH. Muhammad Yusuf Al Khafidz, kepada para pengelola lembaga pendidikan Al-Qur’an.

Dalam arahannya, KH. Muhammad Yusuf Al Khafidz mengajak seluruh peserta untuk menyikapi setiap perubahan kebijakan pemerintah dengan sikap lapang dada dan penuh rasa syukur.

“Perubahan kebijakan, termasuk pergantian rekening bank, jangan disikapi dengan keluhan. Mari kita nikmati sebagai bagian dari ikhtiar dan proses yang harus dijalani. Bisa jadi melalui jalan-jalan seperti inilah Allah SWT menghadirkan rezeki kepada kita,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa bantuan insentif dari pemerintah merupakan bentuk perhatian kepada para guru Al-Qur’an, namun tidak boleh menjadi orientasi utama dalam mengelola lembaga maupun mengajar santri.

“Jangan sampai adanya bantuan menjadikan kita bergeser niat. Tujuan utama kita tetap li i’lā’i kalimatillāh, menyebarkan Al-Qur’an, mengajarkannya kepada generasi penerus, serta menjaga kemuliaan Kalamullah,” tegasnya.

Mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Hijr ayat 9, beliau mengingatkan bahwa Allah telah menjamin penjagaan terhadap Al-Qur’an. Menurutnya, para ustadz dan ustadzah merupakan bagian dari ikhtiar Allah dalam menjaga kitab suci tersebut.

“Allah telah berfirman, ‘Innā naḥnu nazzalnaż-żikra wa innā lahū laḥāfiẓūn.’ Salah satu cara Allah menjaga Al-Qur’an adalah dengan menggerakkan hati para guru agar tetap semangat mengajar dan tidak lelah membimbing santri,” ujarnya.

Baca Lainnya  Bupati Tegal Apresiasi FASI IX Badko LPQ sebagai Benteng Pendidikan Anak di Era Digital

Beliau juga menyampaikan rasa syukur atas tumbuhnya para penghafal Al-Qur’an di Kabupaten Tegal. Fenomena tersebut menjadi bukti bahwa semangat mencintai Al-Qur’an terus berkembang di tengah masyarakat.

“Semakin banyak hafiz dan hafizah adalah kabar yang membahagiakan. Ini menunjukkan bahwa pendidikan Al-Qur’an terus hidup dan menjadi tanggung jawab bersama untuk kita rawat,” katanya.

Pada aspek kelembagaan, KH. Muhammad Yusuf Al Khafidz menekankan pentingnya ketertiban administrasi sebagai syarat utama keberlangsungan lembaga dan akses terhadap berbagai program pemerintah.

“Administrasi bukan sekadar berkas. Pembaruan data EMIS setiap semester wajib dilakukan. Jika data lembaga tidak diperbarui, maka lembaga dianggap tidak aktif dan berdampak pada hak-hak para ustadz dan ustadzah,” jelasnya.

Ia meminta seluruh pengelola TPQ agar tidak menganggap remeh urusan administrasi, sebab administrasi yang tertib mencerminkan kesungguhan dalam mengelola lembaga pendidikan Al-Qur’an.

“Setiap ada pembinaan administrasi, hadir dan ikuti dengan sungguh-sungguh. Kedisiplinan administrasi menjadi fondasi kemajuan lembaga dan membuka peluang memperoleh berbagai program penguatan dari pemerintah maupun Badko LPQ,” pesannya.

Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengingatkan pentingnya mengikuti pembinaan yang diselenggarakan oleh masing-masing metode pembelajaran Al-Qur’an. Menurutnya, guru yang baik adalah guru yang tidak pernah berhenti belajar.

“Jangan pernah merasa cukup hanya karena sudah menjadi ustadz atau ustadzah. Seorang pengajar Al-Qur’an tetap membutuhkan pembinaan agar kualitas bacaan, metodologi, dan pengajarannya semakin baik,” ungkapnya.

Untuk memberikan teladan, KH. Muhammad Yusuf Al Khafidz menceritakan pengalamannya ketika berada di Madinah. Meski telah lama mengajar Al-Qur’an, ia tetap menyetorkan bacaan kepada para masyayikh demi memperbaiki kualitas tilawahnya.

“Saya sendiri ketika berada di Madinah rutin menyetorkan bacaan Al-Qur’an kepada para syekh. Itu saya lakukan agar terus memperbaiki bacaan dan tidak merasa paling benar. Semakin berilmu, justru semakin merasa perlu belajar,” kenangnya.

Baca Lainnya  H. Ahmad Muhdzir: Ujian Tahfizhul Qur’an Perkuat Standarisasi dan Dorong Pengakuan Setara Prestasi Akademik

Beliau kemudian mengutip kaidah, ‘Wa fauqa kulli dzi ‘ilmin ‘alim’, bahwa di atas setiap orang yang berilmu masih ada orang lain yang memiliki ilmu lebih tinggi.

“Karena itu jangan pernah berhenti mengaji. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula kerendahan hatinya untuk terus belajar kepada guru-guru yang lebih alim,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa kualitas santri sangat ditentukan oleh kualitas guru yang membimbingnya. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi guru harus menjadi prioritas seluruh lembaga TPQ.

“Jika kita ingin memiliki santri yang baik, maka gurunya harus terus memperbaiki diri. Pembinaan adalah jalan untuk meningkatkan kualitas guru, sehingga manfaatnya akan dirasakan langsung oleh para santri,” ujarnya.

Selain pembinaan, KH. Muhammad Yusuf Al Khafidz juga menjelaskan pentingnya program UPZ yang dikelola Badko LPQ sebagai bentuk kepedulian sosial dan penguatan kelembagaan.

“Program UPZ harus terus kita dukung bersama. Dana yang dihimpun dikelola secara amanah melalui bendahara masing-masing dan digunakan untuk mendukung program kemaslahatan umat serta pengembangan Badko LPQ,” jelasnya.

Beliau kemudian memaparkan cita-cita besar Badko LPQ Kecamatan Jatinegara, yakni memiliki gedung sekretariat sendiri sebagai pusat koordinasi, pembinaan, dan pelayanan bagi seluruh lembaga pendidikan Al-Qur’an.

“Kita harus memiliki mimpi besar. Kabupaten sudah memiliki gedung Badko LPQ, maka ke depan Kecamatan Jatinegara juga harus memiliki gedung sendiri yang representatif sebagai pusat pelayanan dan pengembangan pendidikan Al-Qur’an,” harapnya.

Menutup arahannya, KH. Muhammad Yusuf Al Khafidz mengajak seluruh Kepala TPQ untuk memperkuat kebersamaan, menjaga keikhlasan dalam berdakwah melalui pendidikan Al-Qur’an, serta bersama-sama membangun Badko LPQ yang semakin tertib administrasi, unggul dalam pembinaan, dan mandiri dalam kelembagaan.

Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *