Warta  

Gus Rozin: Ansor Pintu Kaderisasi Terakhir Menuju NU, Jangan Saling Serang di Media Sosial

Avatar photo
Ketua PWNU Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), memberikan sambutan pada pembukaan Muskerwil II PW GP Ansor Jawa Tengah di Hotel Sun Q Ta, Guci, Kabupaten Tegal, Sabtu (12/9/2026).

Guci, Warta NU Tegal

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin atau akrab disapa Gus Rozin, mengingatkan pentingnya tanggung jawab moral kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor dalam menjaga keberlanjutan kaderisasi dan marwah Nahdlatul Ulama (NU). Pesan tersebut disampaikan saat memberikan sambutan pada pembukaan Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) II PW GP Ansor Jawa Tengah di Hotel Sun Q Ta, Guci, Kabupaten Tegal, Sabtu (12/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Gus Rozin menekankan bahwa GP Ansor memiliki posisi strategis sebagai salah satu ruang penting kaderisasi kepemimpinan NU. Karena itu, kader Ansor tidak hanya dituntut aktif dalam organisasi, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan diri menjadi generasi penerus yang mampu melanjutkan perjuangan jam’iyah NU dengan kapasitas, komitmen, dan pengabdian yang nyata.

“Saya selalu berusaha keras untuk datang jika diundang PW GP Ansor, karena bagi saya Ansor adalah pintu masuk terakhir kaderisasi menuju NU,” ujar Gus Rozin.

Menurutnya, keberlanjutan organisasi NU perlu ditopang oleh proses kaderisasi yang berjalan secara berjenjang dan terarah. GP Ansor menjadi salah satu ruang strategis untuk menyiapkan kader yang nantinya dapat mengisi berbagai posisi kepemimpinan di lingkungan NU.

“Sebagai urutan kaderisasi, supaya NU itu berjalan baik dan diisi secara berurutan, maka yang paling tepat untuk mengisinya adalah dari kader Ansor,” tegasnya.

Gus Rozin juga mengingatkan kader Ansor mengenai tanggung jawab moral untuk menjaga sekaligus mengangkat kembali marwah NU dan pesantren di tengah berbagai dinamika yang berkembang. Menurutnya, kehormatan organisasi tidak cukup dibangun melalui pernyataan dan perdebatan, tetapi harus diwujudkan melalui kerja nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Baca Lainnya  Bupati Tegal Tekankan Peran Strategis Pendamping Desa, Dorong Tata Kelola Transparan dan Akuntabel

“Beberapa waktu terakhir yang menimpa NU dan pesantren membawa penurunan marwah yang cukup tajam. Oleh karena itu, kita sebagai kader NU, termasuk banomnya, tentu membawa beban moral untuk menaikkan kembali martabat NU melalui Ansor,” ungkapnya.

Ia menegaskan, kader Ansor perlu mampu menjadi pengawal tradisi sekaligus menunjukkan kapasitasnya di ruang publik melalui karya dan pengabdian. Setiap potensi kader, lanjutnya, harus diarahkan untuk menghadirkan program yang strategis dan memberi kemaslahatan bagi umat serta masyarakat luas.

“Ansor jangan hanya menjadi pengawal benteng tradisi, tetapi juga harus mampu menaikkan kembali martabat organisasi melalui pengabdian dan pembuktian kapasitas diri di ranah publik,” pesannya.

Di tengah perkembangan teknologi digital, Gus Rozin turut memberikan perhatian terhadap pola komunikasi kader di media sosial. Ia mengingatkan agar ruang digital tidak digunakan sebagai tempat mempertontonkan konflik internal, terlebih dalam bentuk saling serang antarkader yang berpotensi merusak persatuan dan citra organisasi.

“Jangan sampai kita dengan kita yang justru saling serang di media sosial,” pesannya.

Gus Rozin meminta seluruh kader mengalihkan energi dan kemampuan digital yang dimiliki untuk memperkuat persatuan, membangun komunikasi, serta menjadi sarana rekonsiliasi di internal organisasi. Menurutnya, perkembangan teknologi harus dimanfaatkan untuk memperkuat gerakan, bukan memperlebar perbedaan.

“NU punya harapan besar terhadap Ansor. Ansor yang punya pasukan cyber, gagasan transformasi digital dan perangkatnya, maka kita kembalikan menjadi media counter antara kita dan mereka lagi, bukan antara kita dengan kita,” tandasnya.

Lebih lanjut, Gus Rozin memandang keberadaan GP Ansor sebagai bagian yang melengkapi perjalanan dan gerak organisasi NU. Ia mengibaratkan NU sebagai sebuah kapal besar yang membutuhkan berbagai elemen untuk menjaga keseimbangan dan memastikan perjalanan organisasi tetap berada pada jalurnya.

Baca Lainnya  Tak Disangka dari Mushola Kecil di Slaranglor, Donasi untuk Korban Padasari Terkumpul Rp1,2 Juta

“Saya kira selama ini apa yang didiskusikan, Ansor mempunyai fungsi lain, yaitu sebagai penyeimbang NU, bukan menjadi lawan. Oleh karena itu, harapan saya NU menjadi pelindung bagi seluruh elemen masyarakat, terutama bagi kaum Nahdliyin,” pungkasnya.

Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *