Istighosah Kubro Malam Jumat Kliwon di Ponpes Attauhidiyyah Cikura, KH Ahmad Sa’idi Tekankan Pentingnya Memahami Makna dan Ilmu Agama

Avatar photo
Pengasuh Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syekh Armia bin Kiai Kurdi Cikura, KH Ahmad Sa’idi bin KH Sa’id, menyampaikan tausiyah dalam Istighosah Kubro malam Jumat Kliwon di Cikura, Bojong, Kabupaten Tegal, Kamis malam Jumat (24/9/2026).

Bojong, Warta NU Tegal

Istighosah Kubro malam Jumat Kliwon di Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syech Armia bin KH Kurdi, Cikura, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Kamis malam Jumat (24/9/2026), berlangsung dalam suasana khidmat. Selain doa dan dzikir, kegiatan tersebut diisi tausiyah Pengasuh Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syech Armia bin Kiai Kurdi Cikura Bojong Tegal, KH Ahmad Sa’idi bin KH Said, yang mengajak jamaah mendalami makna, memahami perbedaan penafsiran, serta tidak mudah mempertentangkan pendapat ulama.

Pantauan Warta NU Tegal, dalam tausiyahnya KH Ahmad Sa’idi menguraikan bahwa setiap lafaz, isyarat, dan tanda dapat memiliki makna tertentu. Menurutnya, kemampuan memahami makna menjadi bagian penting dalam mendalami ajaran Islam, khususnya ketika umat berhadapan dengan beragam penjelasan ulama dalam memahami Al-Qur’an, hadis, fikih, tauhid, dan persoalan keagamaan lainnya.

“Segala sesuatu itu mempunyai makna. Kedipan mata saja memiliki isyarah atau tanda. Karena itu, kita harus memahami bahwa dilalah atau petunjuk itu ada yang berupa lafaz dan ada pula yang bukan lafaz. Semuanya memiliki makna,” kata KH Ahmad Sa’idi.

“Karena itu, kita semua harus belajar memahami makna agar tidak salah dalam mengartikan sesuatu. Ada satu lafaz yang memiliki banyak makna, dan ada pula banyak lafaz yang menunjukkan satu makna. Ini menjadi dasar penting ketika kita memahami kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an,” ujarnya.

“Para imam dan sahabat juga memiliki pemahaman yang berbeda dalam mengartikan suatu lafaz. Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hambali, Imam Hanafi, maupun para sahabat seperti Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Abbas memiliki keluasan dalam berijtihad sesuai pemahaman mereka terhadap Al-Qur’an dan hadis,” jelasnya.

“Perbedaan pemahaman tidak semestinya menjadikan kita saling bertengkar. Justru kita perlu mengetahui dasar dari masing-masing pendapat. Mereka tidak berbicara semaunya, tetapi memahami berdasarkan kitab, hadis, dan keterangan yang diwariskan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,” tuturnya.

“Dalam memahami satu lafaz, bisa saja ulama menemukan makna yang berbeda karena dasar pengambilan dalilnya juga berbeda. Perbedaan itu perlu dipahami dengan ilmu, bukan dengan emosi. Jangan sampai kita mengatakan seorang kiai bertentangan dengan kiai lainnya hanya karena kita belum memahami dasar penjelasannya,” sambungnya.

“Contohnya lafaz hin dalam Al-Qur’an. Para sahabat dapat memberikan pemaknaan yang berbeda sesuai dengan ayat yang menjadi dasar. Ada yang memaknainya dalam rentang waktu tertentu, ada yang memaknainya empat puluh tahun, ada yang memaknainya satu tahun, dan ada pula yang memaknainya sehari semalam,” terangnya.

Baca Lainnya  Musyawarah Fathul Qorib MWCNU Lebaksiu Perkuat Tradisi Fikih Pesantren dan Kaderisasi Ulama Nahdliyin

“Perbedaan itu menunjukkan luasnya pemahaman para sahabat terhadap Al-Qur’an. Ketika dasar yang digunakan berbeda, hasil pemaknaannya juga dapat berbeda. Maka kita jangan terburu-buru menyalahkan sebelum mengetahui dalil dan cara berpikir yang digunakan,” katanya.

“Dalam persoalan agama, kita harus belajar menerima adanya perbedaan pendapat yang memiliki dasar. Jangan sedikit-sedikit mengatakan, ‘Kiai ini begini, kiai itu begitu, imam ini berbeda dengan imam itu.’ Kita harus memahami bahwa Allah memberikan pemahaman kepada para ulama sesuai dengan ilmu dan dalil yang mereka miliki,” jelas KH Ahmad Sa’idi.

“Perbedaan pendapat di antara imam mazhab juga banyak terjadi dalam persoalan fikih. Ada persoalan yang menurut Imam Abu Hanifah memiliki ketentuan tertentu, sementara menurut Imam Syafi’i memiliki ketentuan yang berbeda. Bagi orang yang tidak belajar, perbedaan seperti itu memang membingungkan,” ujarnya.

“Karena itu, jangan menjadi orang yang hanya mengikuti perasaan tanpa mau belajar. Kalau ingin memahami agama, harus serius belajar. Jangan merasa cukup hanya karena sudah tua. Selama masih diberi kesempatan hidup, kesempatan untuk belajar agama tetap terbuka,” tegasnya.

“Orang yang merasa sudah tua lalu mengatakan tidak perlu mengaji justru berada dalam keadaan yang perlu lebih banyak belajar. Lebih baik seseorang mulai mengaji ketika sudah tua daripada tidak mengaji sama sekali. Kesadaran untuk belajar adalah bagian dari jalan menuju kebaikan,” katanya.

“Banyak orang sejak kecil tidak belajar agama dengan baik. Ketika sudah tua, baru menyadari pentingnya ilmu. Maka jangan malu untuk mulai mengaji. Belajar fikih, belajar tajwid, belajar tauhid, dan belajar ilmu agama lainnya sesuai kemampuan,” jelasnya.

“Jangan merasa malu karena usia. Walaupun kemampuan sudah terbatas, tetaplah datang untuk mendengarkan pengajian. Allah melihat kesungguhan dan niat seseorang. Kesadaran untuk bertobat, belajar, dan memperbaiki diri merupakan bagian penting dalam perjalanan seorang Muslim,” tuturnya.

“Orang yang menyesal atas kesalahan masa lalu kemudian bertobat dan memperbaiki diri harus terus didorong untuk berbuat baik. Jangan justru dicemooh. Selama seseorang masih hidup, pintu untuk memperbaiki diri dan mendekat kepada Allah tetap menjadi bagian dari harapan seorang Muslim,” ujarnya.

“Dalam persoalan ibadah, seseorang harus memahami kewajibannya melalui ilmu. Jangan hanya menjalankan agama berdasarkan kebiasaan. Salat harus dipahami, membaca Al-Qur’an harus dipelajari, dan tauhid harus didalami. Semuanya membutuhkan proses belajar,” katanya.

Baca Lainnya  Kajian Maulid Ad-Diba’i, Ustadz Abdul Rozak Alhafidz Uraikan Keistimewaan Nabi Muhammad

“Termasuk dalam memahami kalimat La ilaha illallah, kita tidak cukup hanya mengucapkannya. Kita perlu memahami maknanya. Dalam ilmu mantik, sebuah makna dapat dijelaskan melalui beberapa bentuk, termasuk makna mutabaqah, tadhammun, dan lazim,” jelas KH Ahmad Sa’idi.

“Makna mutabaqah dari La ilaha illallah adalah la ma’buda bihaqqin fil wujudi illallah, tidak ada sesembahan yang benar-benar berhak disembah di dalam wujud ini selain Allah. Sementara makna lazimnya berkaitan dengan kesempurnaan ketergantungan makhluk kepada Allah dan kemahaan-Nya dari segala sesuatu selain-Nya,” terangnya.

“Dari makna tersebut, banyak pembahasan akidah dapat dipahami, mulai dari sifat-sifat Allah dan pembahasan tentang wujud, qidam, baqa, mukhalafatu lil-hawadits, hingga sifat-sifat lainnya. Karena itu, memahami tauhid tidak cukup dengan hafalan, tetapi perlu memahami makna dan konsekuensinya,” ujarnya.

“Makna La ilaha illallah juga berkaitan dengan ubudiyah. Ketika kita memahami bahwa hanya Allah yang berhak disembah, maka pemahaman itu harus tercermin dalam tata cara ibadah dan kehidupan sehari-hari. Tauhid harus melahirkan penghambaan yang benar kepada Allah,” katanya.

“Makna lazim menjadi bagian penting untuk memahami kandungan yang lebih luas dari makna La ilaha illallah. Karena itu, orang yang belajar tauhid perlu memahami hubungan antara makna mutabaqah dan makna lazim agar pemahamannya tidak sepotong-sepotong,” jelasnya.

“Jangan hanya berbicara berdasarkan perasaan. Kalau ingin memahami agama, belajarlah kepada guru dan ulama. Orang yang tidak mau belajar akan mudah bingung ketika berhadapan dengan perbedaan pendapat,” tegasnya.

“Di dalam perjuangan mengajarkan Islam kepada umat, para ulama juga dapat menggunakan pendekatan yang berbeda. Ada yang memulai dengan dialog, ada yang memberikan pemahaman secara bertahap, ada yang mengajak masyarakat melalui majelis, pengajian, pembacaan shalawat, dan berbagai kegiatan keagamaan,” tuturnya.

“Pendekatan yang berbeda tidak berarti tujuan mereka berbeda. Selama berlandaskan Al-Qur’an, hadis, dan tuntunan ulama, semuanya merupakan bagian dari ikhtiar membimbing umat agar memahami agama. Karena itu, jangan mudah mempertentangkan cara dakwah satu ulama dengan ulama lainnya,” katanya.

“Umat perlu menjaga adab dalam menyikapi perbedaan. Kalau ada kiai atau habib menyampaikan penjelasan yang berbeda, jangan langsung saling menyalahkan. Tanyakan dasar ilmunya, pelajari keterangannya, dan serahkan persoalan yang belum dipahami kepada orang yang memiliki kompetensi keilmuan,” ujarnya.

“Yang paling penting adalah umat Islam terus belajar. Jangan sampai tidak memahami agama sehingga mudah menerima informasi tanpa mengetahui benar atau salahnya. Ilmu agama menjadi bekal untuk menjaga akidah, ibadah, akhlak, dan kehidupan bermasyarakat,” jelasnya.

Baca Lainnya  Haul Sesepuh Kebagusan, KH Nawawi Ashari Ingatkan Nahdliyin Ziarahi Makam Sesepuh Kampung Sebelum ke Makam Wali

“Anak-anak kita harus didorong untuk mengaji. Jangan hanya mengandalkan pendidikan umum. Pendidikan agama jauh lebih penting agar mereka mengenal Allah, memahami kewajiban, mengetahui halal dan haram, serta memiliki akhlak yang baik,” katanya.

“Orang yang belajar agama akan memiliki bekal untuk membedakan mana yang benar dan mana yang keliru. Karena itu, mengaji harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar hadir kemudian pulang. Dengarkan guru, pahami penjelasannya, dan amalkan ilmu yang diperoleh,” tuturnya.

“Umat Islam juga harus berhati-hati dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam memilih makanan dan memastikan kehalalannya. Islam mengajarkan kehati-hatian dalam perkara halal dan haram. Jangan menganggap remeh sesuatu yang berkaitan dengan konsumsi karena makanan juga berkaitan dengan kehidupan dan ibadah,” ujarnya.

“Perkara halal dan haram harus dipahami dengan ilmu. Ada sesuatu yang haram karena zatnya dan ada pula yang menjadi haram karena sebab tertentu. Karena itu, jangan menyamakan semua bentuk keharaman. Pelajari ketentuannya kepada ulama agar tidak salah memahami hukum,” jelasnya.

“Di tengah perkembangan zaman, umat Islam harus semakin meningkatkan pengetahuan agama. Informasi datang dari berbagai arah dan tidak semuanya dapat diterima begitu saja. Karena itu, anak-anak harus dibekali pendidikan agama, akhlak, dan kemampuan memahami informasi agar tidak mudah terpengaruh,” katanya.

“Jangan berhenti mengaji meskipun usia sudah lanjut. Selama Allah masih memberikan umur, gunakan kesempatan itu untuk memperbaiki diri. Belajar tidak mengenal batas usia. Yang penting ada kemauan, kesungguhan, dan keikhlasan untuk mencari ilmu,” tuturnya.

“Semoga Allah memberikan kesadaran kepada seluruh umat Islam untuk terus belajar, anak-anak kita rajin mengaji, memahami agama, menjadi manusia yang benar, serta tidak mudah tertipu oleh berbagai informasi dan keadaan. Semoga ilmu yang dipelajari menjadi jalan keselamatan dan keberkahan bagi kita semua,” pungkas KH Ahmad Sa’idi.

Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *