Warta  

Mudzakaroh Ranting Dukuhbangsa, Muslimat NU Ajak Warga Tirakat untuk Anak dan Perkuat Keberkahan Ber-NU

Avatar photo
Ketua PRNU Desa Dukuhbangsa, Ustadz Hasanudin, menyampaikan tausiyah dalam Mudzakaroh sebagai ikhtiar memperkuat tradisi ke-NU-an, amaliah, silaturahmi, serta keberkahan keluarga dan kehidupan bermasyarakat.

Jatinegara, Warta NU Tegal

Penguatan tradisi ke-NU-an kembali dilakukan warga Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Jatinegara melalui kegiatan Mudzakaroh yang digelar di Ranting Dukuhbangsa, Ahad (27/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi ruang silaturahmi, penguatan amaliah, sekaligus refleksi bersama tentang pentingnya menjaga keberkahan keluarga dan kehidupan bermasyarakat.

Kegiatan dihadiri Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Tegal, Hj. Alfiah, Katib MWCNU Kecamatan Jatinegara KH. Takhroni, serta Ketua Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Dukuhbangsa Ustadz Hasanudin. Dalam kesempatan tersebut, para narasumber menyampaikan pesan keagamaan dan sosial yang relevan dengan kehidupan warga NU.

Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Tegal Hj. Alfiah, mengajak warga, khususnya para orang tua, untuk tidak hanya mengandalkan ikhtiar lahiriah dalam mendidik anak, tetapi juga memperkuat tirakat dan doa. Menurutnya, tirakat orang tua menjadi bagian penting dalam mengiringi perjalanan pendidikan dan masa depan anak.

“Anak-anak kita perlu diiringi dengan doa, tirakat, dan keteladanan orang tua. Jangan sampai pendidikan anak hanya mengandalkan kemampuan akademik, tetapi lupa membangun kedekatan kepada Allah SWT,” tutur Hj. Alfiah.

Ia juga mengajak seluruh warga Jatinegara, khususnya keluarga besar NU, untuk terus menjaga tradisi keagamaan yang telah diwariskan para ulama.

“Warga NU hendaknya tetap menjaga amaliah, kebersamaan, dan tradisi yang menjadi bagian dari kehidupan Nahdlatul Ulama. Dari situlah insyaallah tumbuh keberkahan dalam keluarga dan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Katib MWCNU Kecamatan Jatinegara KH. Takhroni menyampaikan pentingnya perhatian warga terhadap berbagai kebutuhan sosial-keumatan, termasuk persoalan pelayanan kesehatan. Ia mengajak warga NU untuk memanfaatkan dan mendukung keberadaan fasilitas kesehatan yang dikelola oleh lingkungan NU.

“Bagi warga NU di Kecamatan Jatinegara yang memungkinkan untuk melakukan perpindahan fasilitas kesehatan, dapat mempertimbangkan Klinik NU sebagai salah satu pilihan. Ini bagian dari ikhtiar bersama agar keberadaan lembaga dan layanan kesehatan milik NU semakin kuat dan memberikan manfaat kepada warga,” jelas KH. Takhroni.

Baca Lainnya  BADKO LPQ Margasari Salurkan Donasi Rp10,1 Juta untuk Guru TPQ Terdampak Tanah Bergerak di Padasari

Ia menambahkan, penguatan fasilitas yang dimiliki NU membutuhkan dukungan nyata dari warga.

“Kalau warga NU bersama-sama menguatkan lembaga yang dimiliki NU, insyaallah manfaatnya akan kembali kepada masyarakat. Karena itu, mari kita rawat dan dukung apa yang sudah dibangun oleh para ulama dan kader NU,” katanya.

Memasuki acara inti, Ketua PRNU Desa Dukuhbangsa Ustadz Hasanudin menyampaikan mauidzah hasanah tentang keberkahan menjadi bagian dari Nahdlatul Ulama. Ia mengingatkan bahwa ber-NU bukan sekadar identitas organisasi, tetapi juga ikhtiar untuk mengikuti ajaran, tradisi, dan sanad keilmuan para ulama.

“Keberkahan ber-NU dapat dirasakan ketika kita tidak hanya mengaku sebagai warga NU, tetapi juga mau menghidupkan amaliah, menghadiri majelis ilmu, menjaga silaturahmi, serta mengikuti tuntunan para ulama,” tutur Ustadz Hasanudin.

Menurutnya, kebersamaan dalam NU menjadi jalan untuk menjaga kesinambungan tradisi keagamaan di tengah masyarakat.

“Ketika kita berkumpul dalam majelis seperti Mudzakaroh ini, sebenarnya kita sedang merawat hubungan antarsesama sekaligus merawat warisan para ulama. Jangan sampai tradisi baik ini berhenti pada generasi kita,” ungkapnya.

Ustadz Hasanudin juga berpesan agar warga NU terus menanamkan nilai-nilai ke-NU-an kepada generasi muda.

“Anak-anak harus dikenalkan dengan masjid, majelis ilmu, tradisi tahlil, shalawat, dan kegiatan NU sejak dini. Dengan begitu, mereka memiliki bekal agama sekaligus mengenal akar tradisi yang diwariskan para ulama,” pungkasnya.

Editor : Tahmid
Kontributor: Ruqoyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *