Rijalul Ansor Jatinegara Dalami Kitab Daqoiqul Akhbar, Ingatkan Pentingnya Menjaga Iman hingga Akhir Hayat

Avatar photo
Kepala MDS Rijalul Ansor Ranting Sitail, Ustadz A. Jabidin, menyampaikan mauidzah hasanah dengan mengkaji Kitab Daqoiqul Akhbar dalam rutinan MDS Rijalul Ansor PAC GP Ansor Jatinegara di Desa Lembasari, Sabtu malam Ahad (24/10/2026).

Jatinegara, Warta NU Tegal

Penguatan keimanan dan persiapan menghadapi akhir kehidupan menjadi salah satu pesan penting dalam rutinan Majelis Dzikir dan Sholawat (MDS) Rijalul Ansor Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Sabtu malam Ahad (24/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di rumah Sahabat Ustadz Rifa’i, Pimpinan Ranting GP Ansor Desa Lembasari, tersebut menjadi ruang silaturahmi kader sekaligus pendalaman ilmu agama melalui kajian kitab kuning.

Kegiatan diikuti pengurus harian dan lembaga PAC GP Ansor Jatinegara, jajaran Satkoryon Banser, para ketua ranting GP Ansor, ketua MDS Rijalul Ansor tingkat ranting, serta anggota Ansor dan Banser se-Kecamatan Jatinegara. Rangkaian acara meliputi istighosah, pembacaan Maulid Nabi oleh MDS Rijalul Ansor ranting, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars GP Ansor, Mars Banser, dan Yalal Wathan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, serta sambutan pengurus.

Mauizah hasanah disampaikan Kepala MDS Rijalul Ansor Ranting Sitail, Ustadz A. Jabidin, melalui kajian Kitab Daqā’iqul Akhbār. Salah satu pembahasan yang disoroti ialah keadaan manusia ketika menghadapi sakratul maut, pentingnya memohon perlindungan Allah SWT agar tetap teguh dalam iman, serta perlunya mempersiapkan kehidupan akhirat melalui ibadah dan amal saleh.

Ustadz A. Jabidin menjelaskan bahwa pembahasan mengenai sakratul maut mengingatkan setiap muslim agar tidak hanya memperhatikan kehidupan dunia, tetapi juga mempersiapkan akhir perjalanan hidupnya.

وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ وَدَاعِ الْإِيمَانِ لِسَانًا

Artinya: “memohon perlindungan kepada Allah dari kehilangan iman pada lisan di akhir hayat.”

“Pembahasan ini mengajak kita untuk senantiasa memohon pertolongan Allah agar diberi keteguhan iman, bukan hanya ketika sehat dan lapang, tetapi juga saat menghadapi kesulitan,” ujarnya.

Ia menerangkan bahwa kitab tersebut menggambarkan tubuh manusia yang kehilangan fungsi ketika ruh telah berpisah.

فَتَبْقَى الْيَدَانِ بِلَا حَرَكَةٍ، وَالرِّجْلَانِ بِلَا حَرَكَةٍ

Artinya: “kedua tangan dan kedua kaki tidak lagi bergerak.”

Menurutnya, gambaran tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan fisik manusia terbatas dan pada akhirnya setiap orang akan menghadapi kematian.

Baca Lainnya  Ustadz Arindra Bagus Santoso: Haji dan Umroh Adalah Perjalanan Hati Menuju Kedekatan dengan Allah SWT

“Karena itu, selagi diberi kesempatan hidup, hendaknya kita memperbanyak amal kebaikan dan menggunakan waktu untuk hal-hal yang diridai Allah SWT,” tuturnya.

Dalam kajian itu, perhatian juga diarahkan pada pentingnya menjaga iman dan makrifat kepada Allah SWT.

وَالْقَلْبُ بِلَا مَعْرِفَةٍ

Artinya: “Hati tanpa makrifat atau pengenalan kepada Allah.”

Ustadz A. Jabidin mengajak jamaah memahami bahwa ilmu agama perlu menumbuhkan kesadaran untuk mengenal, mengingat, dan mendekatkan diri kepada Allah.

“Ilmu yang kita pelajari hendaknya menguatkan iman dan membimbing hati agar tetap mengingat Allah dalam setiap keadaan,” jelasnya.

Ia juga menyoroti gambaran kesendirian manusia ketika berada di alam kubur.

فَكَيْفَ يَكُونُ حَالُ الْعَبْدِ فِي اللَّحْدِ؟

Artinya: “Lalu bagaimana keadaan seorang hamba di dalam liang lahad?”

Menurutnya, pertanyaan tersebut mengajak setiap muslim melakukan introspeksi dan menyadari bahwa kehidupan dunia tidak berlangsung selamanya.

“Keluarga dan sahabat merupakan bagian penting dalam kehidupan, tetapi setiap pribadi tetap harus mempersiapkan amalnya sendiri di hadapan Allah SWT,” ungkapnya.

Berikutnya, kajian mengutip perkataan yang dinisbatkan kepada Imam Abu Hanifah mengenai beratnya ujian iman ketika seseorang menghadapi kematian.

وَقَالَ الْإِمَامُ أَبُو حَنِيفَةَ: أَكْثَرُ مَا يَسْلُبُ الْإِيمَانَ عَنِ الْعَبْدِ وَقْتَ النَّزْعِ

Artinya, “Dan Imam Abu Hanifah berkata: Hal yang paling banyak mencabut iman dari seorang hamba adalah pada saat naza’ (sekarat/menjelang kematian).”

“Pesan yang dapat kita ambil ialah pentingnya menjaga keimanan sejak sekarang, bukan menunggu ketika usia sudah senja atau ajal mendekat,” katanya.

Ustadz A. Jabidin kemudian menekankan doa perlindungan agar seorang muslim dijauhkan dari kehilangan iman pada akhir kehidupannya.

حَفِظَنَا اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ مِنْ سَلْبِ الْإِيمَانِ

Artinya: “Semoga Allah menjaga kami dan kalian dari tercabutnya iman.”

Ia mengajak jamaah membiasakan doa, memperbaiki amal, dan menjaga ketulusan dalam beribadah.

Baca Lainnya  Empat Klasifikasi Pemuda Menurut Imam Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi

“Kita tidak boleh merasa paling aman dengan keadaan iman kita. Sebaliknya, kita perlu terus berdoa agar Allah memberikan keteguhan sampai akhir hayat,” pesannya.

Pada pembahasan berikutnya, tentang godaan setan dalam upaya merampas iman manusia.

الْبَابُ الثَّامِنُ فِي ذِكْرِ الشَّيْطَانِ كَيْفَ يَسْلُبُ الْإِيمَانَ

Artinya: “Bab kedelapan tentang penjelasan setan dan bagaimana ia merampas iman.”

Menurut Ustadz A. Jabidin, bagian tersebut mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap godaan yang dapat melemahkan keyakinan.

“Kita harus membentengi diri dengan ilmu, ibadah, dan lingkungan yang mengajak kepada kebaikan agar iman terus terpelihara,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan gambaran setan berusaha menggoda manusia pada saat menghadapi sakratul maut.

فَيَقُولُ لَهُ: اتْرُكْ هَذَا الدِّينَ

Artinya: “Lalu ia berkata kepadanya: Tinggalkanlah agama ini.”

Bagian tersebut disampaikan sebagai peringatan dalam literatur keagamaan tentang beratnya ujian menjelang akhir hayat.

“Pesan utamanya, jangan sampai kita lengah dalam menjaga keyakinan. Keteguhan iman perlu dibangun melalui perjalanan hidup yang dipenuhi ketaatan dan pertobatan,” tuturnya.

Lebih lanjut, kajian menyoroti pentingnya menyikapi ujian kehidupan dengan kesungguhan beribadah dan kerendahan hati di hadapan Allah SWT.

فَالْخَطَرُ شَدِيدٌ، وَالْخَوْفُ عَظِيمٌ

Artinya: “Maka bahayanya besar dan ketakutannya sangat besar.”

Ustadz A. Jabidin mengajak jamaah menjadikan peringatan tersebut sebagai dorongan untuk memperbaiki diri, bukan sebagai alasan untuk berputus asa.

“Kesadaran akan beratnya ujian akhir kehidupan seharusnya membuat kita semakin tekun beribadah dan semakin berharap pada rahmat Allah,” paparnya.

Sebagai ikhtiar memperkuat hubungan spiritual, menganjurkan doa, kerendahan hati, serta ibadah malam.

فَعَلَيْكَ بِالْبُكَاءِ وَالتَّضَرُّعِ

Artinya: “Maka hendaklah engkau memperbanyak tangisan dan merendahkan diri kepada Allah.”

Menurut Ustadz A. Jabidin, maksud nasihat tersebut adalah menumbuhkan hati yang lembut, kesadaran atas kekurangan diri, dan kesungguhan untuk bertobat.

Baca Lainnya  Kajian Adabul 'Alim wal Muta'allim Warnai Teras Muda Rijalul Ansor Tarub, KH. Idris Salis: Ilmu adalah Cahaya yang Menjaga Kehidupan

“Seorang hamba perlu menyadari keterbatasannya, memperbanyak istigfar, serta memohon ampunan dan pertolongan Allah dalam setiap keadaan,” jelasnya.

Ia kemudian mengaitkan pesan kitab dengan pentingnya menjaga ibadah secara konsisten, termasuk salat dan amalan malam sesuai kemampuan.

وَإِحْيَاءِ اللَّيْلِ بِكَثْرَةِ الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ

Artinya: “Menghidupkan malam dengan memperbanyak rukuk dan sujud.”

Ia mengingatkan bahwa persiapan menghadapi akhir kehidupan bukan hanya berupa pengetahuan, tetapi harus diwujudkan dalam amal nyata.

“Jangan sampai kajian hanya berhenti sebagai pengetahuan. Mari kita terapkan melalui salat yang dijaga, zikir, membaca Al-Qur’an, dan kepedulian terhadap sesama,” ajaknya.

Pada bagian penutup nasihat yang dikaji,

حَتَّى تَنْجُوَ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ تَعَالَى

Artinya: “Agar engkau selamat dari azab Allah Taala.”

Ustadz A. Jabidin menjelaskan bahwa pesan tersebut mengarahkan seorang muslim untuk senantiasa memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Ia juga mengingatkan jamaah agar tidak melupakan tanggung jawab sosial, sebab akhlak yang baik dan amal saleh merupakan bagian penting dari pengamalan ajaran agama.

“Semoga ilmu yang kita pelajari menambah ketakwaan, memperbaiki akhlak, dan mendorong kita menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *