Pemalang, Warta NU Tegal
Pondok Pesantren (PP) Al-Falah Misalahul Muta’allimin Karangtengah, Warungpring, Pemalang, menggelar Ijazah Kubro Dalailul Khoirot dan Manakib Alkaromah, Ahad (20/9/2026). Kegiatan tersebut diikuti sekitar 250 peserta dari kalangan alumni dan masyarakat umum.
Kegiatan menghadirkan Pengasuh PP Al-Falah MIM, KH Fadlullah Moch. Farichin Syahmarie, selaku Mujiz Dalailul Khoirot. Sementara itu, pelaksanaan kegiatan dipimpin Ketua Panitia Ustadz Miftahul Makno. Ijazah Kubro tersebut menjadi momentum penguatan tradisi keilmuan pesantren melalui sanad, adab, dan pengamalan Dalailul Khoirot secara istiqamah.
Ketua Panitia Ijazah Kubro Dalailul Khoirot dan Manakib Alkaromah, Ustadz Miftahul Makno, mengatakan kegiatan tersebut diikuti sekitar 250 peserta yang berasal dari alumni PP Al-Falah maupun masyarakat umum. Menurutnya, antusiasme peserta menunjukkan kuatnya perhatian masyarakat terhadap tradisi keilmuan dan amaliah yang berkembang di lingkungan pesantren.
“Alhamdulillah, kegiatan Ijazah Kubro Dalailul Khoirot dan Manakib Alkaromah ini dapat terlaksana dengan baik. Peserta yang hadir sekitar 250 orang, terdiri atas alumni dan masyarakat umum yang ingin mengikuti ijazah serta mendapatkan keberkahan dari majelis ilmu,” kata Ustadz Miftahul Makno.
Ia menjelaskan, kegiatan tidak hanya menjadi forum pemberian ijazah, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi antara alumni, jamaah, dan masyarakat dengan keluarga besar PP Al-Falah Misalahul Muta’allimin. Tradisi semacam ini dinilai penting untuk menjaga kesinambungan amaliah pesantren dari generasi ke generasi.
“Bagi kami, kegiatan ini bukan sekadar berkumpul, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar menjaga tradisi keilmuan pesantren, mempererat silaturahmi alumni dan masyarakat, serta meneruskan amaliah yang memiliki sanad dan landasan yang jelas,” ujarnya.
Ustadz Miftahul Makno berharap para peserta tidak berhenti pada prosesi ijazah, tetapi mampu mengamalkan Dalailul Khoirot dengan penuh adab dan istiqamah. Menurutnya, keberkahan ilmu akan lebih terasa ketika amalan yang diterima benar-benar dijaga dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami berharap para peserta setelah menerima ijazah tidak hanya membawa pulang ijazah secara simbolis, tetapi juga membawa semangat untuk mengamalkannya. Semoga Dalailul Khoirot menjadi bagian dari amaliah sehari-hari dan membawa keberkahan bagi diri, keluarga, pesantren, serta masyarakat,” ungkapnya.
Sementara itu, KH Fadlullah Moch. Farichin Syahmarie, selaku Mujiz Dalailul Khoirot sekaligus Pengasuh PP Al-Falah MIM, memberikan sejumlah arahan kepada para peserta. Ia menekankan empat hal penting yang perlu dijaga dalam menerima dan mengamalkan Dalailul Khoirot, yakni meluruskan niat, menjaga sanad dan adab, istiqamah, serta menjaga shalat lima waktu.
“Sing pertama, luruskan niat. Apa pun amalan yang kita lakukan harus diniatkan karena Allah SWT. Jangan sampai amalan yang baik justru dicampuri keinginan untuk mencari pujian manusia. Niat kudu bener, karena kabeh amal gumantung marang niate,” tutur KH Fadlullah.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga sanad dan adab dalam menerima suatu amalan dari guru. Tradisi ijazah dalam lingkungan pesantren, menurutnya, tidak dapat dilepaskan dari penghormatan kepada guru dan kesinambungan ilmu dari generasi ke generasi.
“Sing kapindho, jaga sanad lan adab. Sanad iku penting. Yen wis nampa ijazah saka guru, kudu dijaga adabe, kudu ngajeni guru, lan aja sembrana anggone ngamalake. Ilmu iku ana sanad lan ana adabe,” tegasnya.
KH Fadlullah selanjutnya berpesan agar Dalailul Khoirot diamalkan secara konsisten. Menurutnya, amalan yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sedikit, memiliki nilai penting dalam membentuk kedisiplinan spiritual dan kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT.
“Sing katelu, istiqamah utawa konsisten. Aja mung semangat nalika wis nampa ijazah, banjur sawetara dina wis mandheg. Sing penting iku istiqamah. Sedikit nanging terus dilakoni luwih apik tinimbang akeh nanging mung sedhela,” ujarnya.
Terakhir, KH Fadlullah mengingatkan seluruh peserta agar tidak meninggalkan kewajiban utama berupa shalat lima waktu. Ia menegaskan bahwa berbagai amalan sunnah harus berjalan seiring dengan penjagaan terhadap kewajiban syariat.
“Sing kapapat, jaga shalat limang wektu. Dalailul Khoirot iki amalan sing apik, nanging shalat limang wektu aja nganti ditinggal. Kewajiban kudu dijaga, amalan sunnah uga diistiqamahi. Muga-muga kanthi niat sing lurus, sanad lan adab sing dijaga, istiqamah, lan shalat sing dijaga, kita kabeh oleh keberkahan saka Allah SWT,” pungkas KH Fadlullah.
Editor: Tahmid












