Jatinegara, Warta NU Tegal
Semangat Hari Santri Nasional (HSN) 2026 tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan keagamaan, tetapi juga melalui pendidikan karakter yang membentuk generasi muda beriman, berakhlak mulia, mandiri, dan cinta Tanah Air. Semangat tersebut menjadi landasan penyelenggaraan Perkemahan Penggalang Ma’arif (PERGAMA) 7 Tahun 2026 yang digelar Koordinatorat Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Ma’arif NU Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, Selasa hingga Kamis (20–22/10/2026), dipusatkan di Lapangan Sepak Bola Desa Lembasari. PERGAMA 7 diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Lahir Ma’arif NU dan Hari Santri Nasional 2026, sekaligus menjadi wadah pembinaan karakter, pengembangan keterampilan, dan penguatan nilai-nilai keislaman serta ke-NU-an bagi peserta didik tingkat SD/MI dan SMP/MTs.
Ketua Panitia PERGAMA 7 Tahun 2026, Sulaeman, menjelaskan bahwa perkemahan ini dirancang sebagai ruang belajar di luar kelas yang memadukan pendidikan kepramukaan, keterampilan, kreativitas, dan pembiasaan ibadah. Menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman pendidikan yang menyenangkan sekaligus membentuk pribadi peserta didik yang disiplin dan bertanggung jawab.
“PERGAMA 7 bukan sekadar kegiatan berkemah, melainkan sarana pendidikan karakter agar para peserta tumbuh menjadi generasi yang mandiri, berakhlak baik, serta mampu mengamalkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Sulaeman menambahkan, rangkaian kegiatan disusun untuk mengembangkan kemampuan peserta melalui beragam perlombaan dan aktivitas edukatif. Pada hari pertama, peserta mengikuti lomba pionering, hadrah, dan tari tradisional. Hari kedua diisi dengan lomba baris-berbaris (PBB), pidato, kaligrafi, wide game, senam Pramuka, gobak sodor, MTQ atau tilawah, serta lomba kitab kuning.
“Kami ingin memberikan ruang bagi peserta untuk mengembangkan bakat, melatih keberanian, meningkatkan kreativitas, dan belajar bekerja sama. Setiap kegiatan diharapkan mengandung nilai pendidikan yang dapat diterapkan dalam kehidupan mereka,” tuturnya.
Ia juga menegaskan pentingnya menjaga ketertiban, keselamatan, kebersihan, dan sportivitas selama kegiatan berlangsung. Menurutnya, pembentukan karakter harus tercermin dalam perilaku peserta, mulai dari kedisiplinan mengikuti jadwal, kepedulian terhadap lingkungan perkemahan, hingga sikap saling menghormati.
“Kami berharap seluruh peserta, pembina, dan panitia dapat menjaga kebersamaan serta menjadikan PERGAMA 7 sebagai pengalaman berharga. Kemenangan dalam perlombaan bukan satu-satunya tujuan, karena proses belajar, persaudaraan, dan pembentukan karakter jauh lebih penting,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Sako Ma’arif NU Kecamatan Jatinegara, Solihin, menempatkan PERGAMA 7 sebagai bagian dari ikhtiar pendidikan yang menyelaraskan kecakapan kepramukaan dengan pembentukan akhlak dan penguatan identitas pelajar Ma’arif NU. Ia berharap kegiatan tersebut mampu menumbuhkan generasi yang tidak hanya unggul dalam keterampilan, tetapi juga memiliki pemahaman agama dan kepedulian sosial.
“Pendidikan kepramukaan di lingkungan Ma’arif NU harus menjadi sarana membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, mandiri, serta memiliki semangat pengabdian kepada agama, masyarakat, dan bangsa,” ujarnya.
Solihin menjelaskan, nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, seperti tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal, dapat ditanamkan melalui pembiasaan disiplin, sikap adil, toleransi, serta penghormatan terhadap sesama. Rangkaian kegiatan kerohanian dalam PERGAMA 7, termasuk shalat Subuh berjamaah dan kuliah Subuh, menjadi bagian dari upaya mengintegrasikan pendidikan spiritual dengan aktivitas kepramukaan.
“Kami ingin anak-anak Ma’arif NU tumbuh dengan karakter yang seimbang, kuat dalam keimanan, santun dalam pergaulan, serta mampu menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Solihin berharap PERGAMA 7 dapat memperkuat sinergi antara lembaga pendidikan Ma’arif NU, pembina Pramuka, guru, dan masyarakat dalam mendampingi tumbuh kembang peserta didik. Ia menilai kolaborasi tersebut penting agar pendidikan karakter tidak berhenti selama perkemahan, tetapi berlanjut di sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial.
“Pembinaan generasi muda membutuhkan kerja sama semua pihak. Karena itu, kami mengajak para pembina dan lembaga pendidikan untuk terus menghadirkan kegiatan yang mendidik, kreatif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik,” ungkapnya.
Ia juga mengajak seluruh peserta menjadikan momentum Hari Santri Nasional sebagai pengingat untuk meneruskan semangat perjuangan para santri melalui belajar, berdisiplin, berkhidmah, dan memberikan manfaat bagi lingkungan. Rangkaian PERGAMA 7 dijadwalkan ditutup pada Kamis (22/10/2026) melalui lomba pertendaan dan kebersihan lingkungan, karnaval Hari Santri, upacara penutupan dan peringatan HSN, pengumuman juara, serta pembongkaran tenda.
“Harapan kami, para peserta pulang membawa pengalaman, persahabatan, dan semangat baru untuk menjadi pelajar yang berkarakter, cinta Tanah Air, serta mampu menjaga nilai-nilai keislaman dan ke-NU-an,” pungkasnya.
Melalui PERGAMA 7, Sako Ma’arif NU Jatinegara diharapkan terus berkontribusi melahirkan generasi muda yang berintegritas, berjiwa kepemimpinan, dan siap mengabdi bagi kemaslahatan umat.
Editor: Tahmid












