Warta  

Peringati Hari Santri Nasional (HSN) 2026, PRNU Harjosari Lor Perkuat Ukhuwah dan Hidupkan Tradisi Kajian Kitab

Avatar photo
Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Harjosari Lor, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal, menggelar tasyakuran Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Gedung Serbaguna PRNU Harjosari Lor, Rabu malam (21/10/2026), pukul 20.00 WIB, sebagai momentum mempererat ukhuwah dan memperkuat persatuan antar pengurus serta badan otonom NU.

Adiwerna, Warta NU Tegal

Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 menjadi momentum bagi Nahdlatul Ulama (NU) untuk mempererat ukhuwah, memperkuat persatuan, dan melanjutkan tradisi keilmuan para ulama. Semangat tersebut diwujudkan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Harjosari Lor, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal, melalui kegiatan tasyakuran yang mempertemukan jajaran pengurus dan badan otonom NU dalam suasana kebersamaan.

Kegiatan yang berlangsung pada Rabu malam (21/10/2026) mulai pukul 20.00 WIB itu digelar di Gedung Serbaguna PRNU Harjosari Lor. Hadir dalam acara tersebut Ketua Tanfidziyah PRNU Harjosari Lor, Ustadz Muhammad Jamali, Katib Syuriah PRNU Harjosari Lor, Ustadz Abdul Mujib, serta jajaran badan otonom NU, meliputi Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor dan Banser, IPNU, serta IPPNU. Rangkaian kegiatan meliputi pembacaan Maulid Nabi Muhammad SAW, tahlil, sambutan, dan pemotongan tumpeng sebagai ungkapan rasa syukur.

Ketua Tanfidziyah PRNU Harjosari Lor, Ustadz Muhammad Jamali, mengatakan bahwa tasyakuran Hari Santri menjadi sarana mempertemukan seluruh badan otonom NU di tingkat ranting sekaligus mempererat hubungan antarpengurus. Menurutnya, kebersamaan merupakan modal penting untuk menjaga keberlangsungan khidmah Nahdlatul Ulama di tengah masyarakat.

“Momentum ini menjadi pertemuan bersama seluruh badan otonom NU Ranting Harjosari Lor. Meskipun diselenggarakan dengan sederhana, hal itu tidak mengurangi semangat kita dalam memperingati Hari Santri Nasional,” ujarnya.

Ia menambahkan, kesederhanaan penyelenggaraan tidak mengurangi makna peringatan Hari Santri, justru menjadi pengingat bahwa kekuatan organisasi terletak pada keikhlasan dan kebersamaan para penggeraknya. Ustadz Muhammad Jamali berharap, pada tahun mendatang, kegiatan serupa dapat diselenggarakan lebih meriah dengan tetap mengedepankan nilai persaudaraan dan kemanfaatan bagi warga.

“Untuk tahun depan, insyaallah kita laksanakan dengan lebih meriah lagi. Yang terpenting, semangat kebersamaan dan kekompakan seluruh badan otonom NU harus terus kita jaga,” tuturnya.

Baca Lainnya  Ngaji Ramadhan 1447 H MDS Rijalul Ansor Tegal: 18 Titik Konsolidasi Kader Aswaja di Bulan Suci

Selain memperkuat silaturahmi, Ustadz Muhammad Jamali menyampaikan rencana penyelenggaraan kajian kitab Irsyadul Ibad sebagai bagian dari upaya menghidupkan kegiatan keagamaan di Gedung NU Harjosari Lor. Kajian tersebut direncanakan diampu Ustadz Muhammad Roziqin, yang juga menjabat Bendahara PRNU Harjosari Lor.

“Sebagai upaya mengoptimalkan pemanfaatan Gedung NU, insyaallah akan diselenggarakan kajian Kitab Irsyadul Ibad yang diisi oleh Ustadz Muhammad Roziqin,” jelasnya.

Ustadz Muhammad Jamali menjelaskan, kajian tersebut direncanakan berlangsung rutin setiap Jumat malam Sabtu, mulai 30 Oktober 2026. Ia berharap kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama bagi warga Nahdliyin untuk memperdalam pemahaman agama sekaligus menjaga kesinambungan tradisi keilmuan pesantren.

“Kami ingin Gedung NU tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya pengurus, tetapi juga menjadi pusat kegiatan keagamaan dan pembelajaran bagi masyarakat. Semoga kajian ini dapat istiqamah dan memberikan manfaat bagi warga,” ungkapnya.

Sementara itu, Katib Syuriah PRNU Harjosari Lor, Ustadz Abdul Mujib, mengajak warga NU untuk terus meningkatkan semangat menuntut ilmu dengan meneladani perjuangan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Menurutnya, kecintaan kepada para ulama perlu diwujudkan melalui kesungguhan mempelajari ilmu agama dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. “Kita sebagai santrinya Mbah Hasyim Asy’ari harus semangat menuntut ilmu dengan mengikuti kegiatan kajian kitab yang diadakan oleh PRNU di Gedung NU,” ujarnya.

Ustadz Abdul Mujib menegaskan, kajian kitab merupakan bagian penting dari upaya menjaga warisan keilmuan ulama sekaligus memperkuat pemahaman keislaman warga Nahdliyin. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan memiliki kesempatan untuk belajar secara berkelanjutan dengan bimbingan pengajar yang kompeten. “Tradisi mengaji kitab harus terus kita hidupkan. Dengan belajar secara istiqamah, kita dapat memperdalam pemahaman agama dan menjadikan ilmu sebagai pedoman dalam beribadah maupun bermasyarakat,” tuturnya.

Baca Lainnya  Pelantikan PR IPNU-IPPNU Wanalaba Margasari Jadi Titik Awal Kebangkitan Kaderisasi NU di Tingkat Desa

Ia juga menilai tasyakuran Hari Santri bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momentum untuk menyatukan langkah seluruh badan otonom NU. Persatuan tersebut perlu dirawat melalui komunikasi, silaturahmi, dan keterlibatan aktif dalam kegiatan organisasi. “Tasyakuran peringatan Hari Santri ini menjadi momentum untuk menyatukan seluruh badan otonom NU dan bersilaturahim bersama. Semoga kegiatan ini menjadi motivasi bagi kita untuk terus bersama dan bersatu dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam setiap kegiatan NU,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ustadz Abdul Mujib berharap semangat persatuan yang terbangun melalui kegiatan tersebut dapat diwujudkan dalam program-program nyata yang bermanfaat bagi masyarakat. Ia mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk menjaga kekompakan, mendukung kegiatan keagamaan, serta melanjutkan perjuangan para ulama melalui penguatan pendidikan dan pengabdian sosial. “Mari kita jadikan Hari Santri sebagai pengingat untuk terus berkhidmah, menjaga ukhuwah, dan meneruskan perjuangan para ulama dengan ilmu, akhlak, serta kepedulian kepada sesama,” pesannya.

Rangkaian tasyakuran ditutup dengan pemotongan tumpeng oleh Ketua Tanfidziyah PRNU Harjosari Lor, Ustadz  Muhammad Jamali, yang kemudian diserahkan kepada Katib Syuriah, Ustadz Abdul Mujib, sebagai simbol rasa syukur dan penghormatan terhadap tradisi keagamaan Nahdlatul Ulama.

Melalui kegiatan tersebut, PRNU Harjosari Lor berharap sinergi Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor, Banser, IPNU, dan IPPNU semakin kuat, sekaligus mendorong pemanfaatan Gedung NU sebagai pusat kegiatan keagamaan dan keilmuan. Semangat Hari Santri 2026 diharapkan terus menghidupkan nilai keikhlasan, persaudaraan, dan tradisi belajar demi kemaslahatan umat serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Editor: Tahmid
Kontributor: Budianto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *